Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sidang dengan Memakai Baju Pinjaman

Novanda Nirwana • Jumat, 7 November 2025 | 16:16 WIB

BAJU PINJAMAN: Atmorejo Sagi berdiskusi dengan pengacaranya. Dia tak punya baju putih.
BAJU PINJAMAN: Atmorejo Sagi berdiskusi dengan pengacaranya. Dia tak punya baju putih.

Atmorejo Sagi, Terdakwa Pembunuh Gelandangan di Kota Angin

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Nganjuk, suasana hening ketika Atmo masuk ruangan. Lanjut usia (lansia) itu melangkah menuju kursi terdakwa. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari, dan matanya menunduk hampir sepanjang persidangan. 

NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk

"Baju ini saya pinjam," ujar Atmo. Karena itu, kemeja putih yang dipakai Atmo tampak kebesaran di tubuhnya. Dia mengaku pinjam dari sesama tahanan di rumah tahanan Kelas II B Nganjuk. Ia tidak punya pakaian lain, bahkan tidak punya keluarga yang datang menjenguk.

Namun jauh sebelum duduk di kursi pesakitan itu, Atmo sudah lebih dulu kehilangan segalanya. 11 tahun silam, tsunami besar di Aceh merenggut satu-satunya anak yang ia miliki. Kala itu, sang anak sudah berkeluarga di Aceh dan memiliki 2 orang cucu. Setahun kemudian, istrinya yang tak mampu menahan kesedihan menyusul sang anak. 

“Setelah mereka pergi, saya tidak punya siapa-siapa lagi,” ucapnya.

Kehilangan itu membuat Atmo terombang-ambing. Ia meninggalkan rumah, memilih hidup sebagai gelandangan. Tahun demi tahun dia habiskan berpindah dari satu daerah ke daerah lain, bekerja serabutan, tidur di sembarang tempat. Hingga akhirnya, sekitar lima bulan lalu, langkahnya berhenti di Kabupaten Nganjuk.

Di situlah, ia bertemu Sucipto, teman sesame pengamen. Keduanya lalu tinggal di bawah sebuah jembatan di kawasan Ringinanom. Setiap hari, Atmo selalu berbagi rezeki ke Sucipto.

Namun pertemanan itu berakhir tragis. Suatu malam, terjadi pertengkaran kecil yang dipicu hal sepele. Saat itu Atmo emosi sesaat, perdebatan berubah menjadi perkelahian. Dalam kondisi emosi, Atmorejo mengambil pisau yang ada didekatnya. Ia langsung menusuk tubuh Sucipto beberapa kali. Membuat tubuh temannya itu bersimbah darah dan tergeletak tak bernyawa.

Keesokan harinya, warga sekitar heboh menemukan jasad Sucipto di bawah jembatan, dengan luka tusukan di dada dan perut. Polisi yang datang kemudian mengamankan Atmorejo yang sempat kabur beberapa hari. 

Sejak saat itu, hidup Atmo berpindah dari bawah jembatan ke balik jeruji besi. Hari-harinya kini diisi dengan kesunyian. Tak ada yang datang menjenguk, tak ada yang menanyakan kabar. Sesekali, ia berbicara dengan sesama tahanan, tapi lebih sering memilih diam.

“Saya tidak mau membunuh, saat itu emosi sesaat. Saya menyesal,” katanya.

Bagi jaksa dan hakim, Atmorejo memang seorang terdakwa yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi di balik proses hukum yang sedang berjalan, kisah hidupnya menyimpan sisi lain: kisah tentang kesepian, rasa kehilangan, dan penyesalan yang dalam.

Kini, Atmo harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia harus menjalani sidang sampai hakim memberikan putusan apa yang sudah dia perbuat. (tyo)

 

Editor : Karen Wibi
#nganjuk #pembunuhan