Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Hanya Paham Panjenengan, Kulo, dan Monggo 

Novanda Nirwana • Minggu, 25 Januari 2026 | 09:58 WIB

PUTRA BALI: Ipda Putu Darius Pradnyana belum bisa berbahasa Jawa dengan laancar.
PUTRA BALI: Ipda Putu Darius Pradnyana belum bisa berbahasa Jawa dengan laancar.

Mengenal Ipda Putu Darius Pradnyana, Kanit Gakkum Satlantas Polres Nganjuk

Ipda Putu Darius Pradnyana menjabat sebagai Kanit Penegakan Hukum Satlantas Polres Nganjuk di awal tahun ini. Tugas di Kabupaten Nganjuk menjadi pengalaman pertamanya. Sehingga, banyak tantangan yang harus dihadapi pria asal Bali ini. 

NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk

Putu adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dia lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2023. Sejak kecil, jalan hidupnya dekat dengan kepolisian. “Orang tua polisi. Bisa dibilang jadi polisi ini memang cita-cita dari kecil,” ujarnya.

Usai dilantik, Putu sempat bertugas di Mabes Polri, sebelum akhirnya mendapat penugasan ke Nganjuk sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Nganjuk pada Oktober 2025. Tak lama berselang, dia dipercaya menempati posisi strategis di Gakkum Satlantas. Meski masih tergolong baru, Putu mengaku mulai mengikuti ritme Nganjuk. 

Walaupun dia belum sepenuhnya hafal jalan. “Kalau hafalin jalan, belum semua bisa,” katanya.

Adaptasi budaya menjadi tantangan tersendiri. Maklum, Putu berasal dari Bali. Bahasa Jawa menjadi tantangan pertamanya. “Kalau sama anggota polisi masih enak, mereka tahu saya dari Bali, jadi maklum saya nggak bisa bahasa Jawa,” ujarnya.

Berbeda saat berhadapan langsung dengan masyarakat. “Yang agak susah itu kalau dengan masyarakat. Saya ngerti Bahasa Jawa sedikit, jadi banyak membaca mimik ekspresi wajah. Nebak-nebak maksudnya,” ujarnya.

Dua bulan di Nganjuk, kosakata Jawa yang dikuasai Putu masih sebatas dasar. “Yang saya tahu baru monggo, panjenengan, pripun, dan kulo,” tawanya.

Soal kuliner, Putu mulai akrab dengan makanan khas Nganjuk. Favoritnya jatuh pada nasi pecel, terutama yang pedas. “Saya seringnya nasi pecel. Apalagi nasi pecel bledek. Saya dari Bali jadi suka pedas,” tuturnya.

Selain itu, Putu juga mengaku kurang cocok dengan menu berbahan kikil, babat, atau jeroan yang cukup populer di Nganjuk. “Saya nggak terlalu suka itu,” imbuhnya.

Perbedaan lain yang cukup mencolok menurut Putu adalah maraknya perguruan silat. “Itu yang paling terasa beda antara Bali dan Nganjuk,” katanya. Ia menilai, dinamika tersebut kadang menimbulkan keresahan di masyarakat.

Di luar jam dinas, Putu memilih menghabiskan waktu luang dengan berolahraga di gym. Cara sederhana menjaga kebugaran, sekaligus melepas penat setelah berjibaku dengan persoalan lalu lintas.

Sebagai Kanit Gakkum, Putu punya harapan besar. Dia ingin Nganjuk lebih aman dan kondusif. Menurutnya, kecelakaan lalu lintas hampir selalu berawal dari satu hal yang sama. “Sebenarnya masalahnya itu kenapa terjadi laka lantas, biasanya diawali dari pelanggaran lalu lintas,” pungkasnya. (tyo)

 

Editor : Karen Wibi
#nganjuk #Kanit Gakkum Sat Lantas