NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Nganjuk harus diwaspadai. Karena penderita HIV/AIDS di Kota Angin tidak hanya satu atau dua orang. Namun, jumlahnya mencapai ribuan orang. "Sejak 2002 hingga sekarang orang dengan HIV/AIDS di Kabupaten Nganjuk berjumlah 2.472 orang," ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk dr Hendriyanto melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Christiana Firmaningtyas.
Banyaknya penderita HIV/AIDS tersebut karena setiap tahun penderita terus bertambah. Di tahun 2023, penderita HIV/AIDS yang ditemukan sebanyak lima orang. Menurut Ning-panggilan akrab Christiana Firmaningtyas, HIV/AIDS paling banyak menular lewat seks. Penderita HIV/AIDS berhubungan intim dengan orang yang sehat. Sehingga, orang sehat itu akhirnya terkena HIV/AIDS.
Selain menular lewat hubungan intim, HIV/AIDS juga bisa menular lewat jarum suntik yang bekas dipakai penderita HIV/AIDS. Biasanya pemakai narkoba yang tertular lewat itu. Bisa juga transfusi darah yang darahnya mengandung virus HIV/AIDS. Kemudian, anak yang tertular HIV/AIDS dari ibu yang sudah terinfeksi.
Ning mengatakan, HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Banyak penderita yang tidak mau memeriksakan kesehatannya. Sehingga, upaya dinkes menemukan penderita HIV/AIDS tidak bisa maksimal. Padahal, jika diobati lebih awal penderita HIV/AIDS bisa produktif dan kemungkinan hidup lebih lama menjadi lebih besar.
Selain berusaha menemukan penderita HIV/AIDS, dinkes juga berupaya mencegah penularan. Dinkes gencar melaksanakan penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya HIV/Aids. “Berbagai sosialisasi telah dilaksanakan di setiap rumah sakit dan puskesmas-puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Nganjuk, dengan sasaran utama populasi yang berisiko,” tuturnya.
Untuk itu, dinkes bekerja sama dengan berbagai elemen, komunitas dan relawan akan terus mendorong peran dari semua pihak untuk mengupayakan three zero. Yakni, tidak ada kasus infeksi HIV baru, tidak ada kematian akibat AIDS, dan tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.
Ning berharap, masyarakat Nganjuk terus memberikan pengawasan dan mengingatkan keluarga hingga lingkungannya agar lebih berhati-hati dan waspada terhadap HIV/AIDS. “Kalau tidak kita cegah dengan baik, penyebaran HIV/AIDS akan semakin merajalela,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Nganjuk Darmantono mengatakan, pencegahan penularan HIV/AIDS menjadi tugas bersama. Tidak hanya dinkes. Dinsos pun turut serta dalam memonitoring dan mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS. ”Kami libatkan TKSK (tenaga kesejahteraan sosial kecamatan) dan karang taruna di tiap kecamatan untuk mengawasi dan mengkomunikasikan temuan penderita HIV/AIDS di masyarakat,” ujarnya.
Darmantono mengungkapkan, dengan semakin banyak yang peduli dan bertanggung jawab terhadap pencegahan HIV/AIDS maka semakin besar pula peluang mencegah penularan HIV/AIDS. Sebab, penderita HIV/AIDS bisa segera ditemukan dan ditangani.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk