Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah

Yuk Kita Lihat Aktivitas Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang Digelar Serentak di Kabupaten Nganjuk

Iqbal Syahroni • Senin, 22 Januari 2024 | 20:34 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Mengintip Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Kabupaten Nganjuk Sehari Bidan Harus Vaksin 100 Anak Bidan dan kader posyandu harus kerja keras saat Sub- Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. Mereka harus memvaksin anak mulai usia 0-7 tahun. Satu bidan harus meneteskan vaksin polio tidak hanya belasan atau puluhan. Namun, bisa 100 kali.

Peran bidan sangat vital di Sub PIN Polio. Mereka bertugas memvaksin anak usia 0-7 tahun setiap hari. “Minimal satu bidan itu akan memvaksin 100 anak setiap hari,” ujar Koordinator Imunisasi (Korim) Baron Rika Kurnia Asri.

Banyaknya anak yang divaksin polio itu karena tingkat kesadaran orang tua tentang bahaya polio di Kabupaten Nganjuk tinggi. Mereka tidak lagi takut adanya vaksin polio. Bahkan, para orang tua antusias mengantar buah hatinya vaksin polio. “Kalau dilihat dari datanya, yang tidak hadir ini cuma 1-2 orang. Hampir semuanya hadir untuk vaksin polio,” ujar Rika.
Antusiasnya orang tua untuk melakukan imunisasi ini menunjukkan jika orang tua zaman sekarang sudah memahami pentingnya vaksin polio. Dengan adanya berita tentang polio, mereka langsung berbondong-bondong menerima imunisasi polio dengan sukarela. “Dibandingkan dengan imunisasi di hari biasa. Jelas sangat berbeda antrean dan berapa banyak anak-anak yang datang ke lokasi untuk imunisasi,” ujar Rika.

Sebagai bidan di bidang imunisasi, jelas terasa berbeda saat menangani imunisasi di hari biasa ataupun Sub-PIN Polio pekan pertama ini. Meski lelah, bagi bidan hal itu bukan masalah. Karena mereka ingin menjaga kesehatan anak.

Hal tersebut didukung oleh Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Nganjuk S. Kundariana. Bu Kun-panggilan akrab Kundariana mengatakan, seluruh bidan harus siap jika dibutuhkan untuk imunisasi polio. “Bidan, dokter, dan tenaga kesehatan semua harus siap jika diminta bantuan yang berhubungan dengan kesehatan,” ungkapnya.

Bu Kun mengatakan, jika dirinya telah berkoordinasi dengan seluruh bidan untuk saling komunikasi dan menjaga kesehatan mereka. Karena profesi bidan membutuhkan kondisi tubuh yang fit. “Bidan itu harus 24 jam siap,” ungkapnya. 

Ortu Rela Antre di Balai Desa demi Buah Hati
Antrean anak usia 0-7 tahun di balai desa terjadi saat Sub PIN Polio. Para orang tua menggendong dan menggandeng buah hatinya untuk mendapatkan vaksin polio. Seperti yang dilakukan Asep Bahar, 31, warga Desa Buduran, Kecamatan Bagor.
Dia rela datang 20 menit lebih awal dari jadwal imunisasi polio ke balai desa. Selain karena rumahnya dekat, dia juga ingin anaknya secepatnya mendapatkan imunisasi tersebut. “Untuk kesehatan anak saya,” katanya.

Lelaki yang memiliki anak usia 3 bulan itu mengatakan sebenarnya anaknya juga sudah mengikuti imunisasi di posyandu desa. Namun setelah mendapatkan informasi ada tambahan vaksin, dia tak ragu untuk memberikan anak pertamanya.

Yang dia dengar, itu juga ada informasi jika ada kasus polio di Jawa Timur. Apalagi, dengan informasi tambahan ada yang belum lengkap imunisasi polionya. “Yang saya tahu, dari desa juga bilang kalau imunisasi tambahan ini untuk memperkuat agar tidak gampang terkena polio,” ujarnya.

Memang, dari laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dua kasus polio yang ditemukan di akhir 2023 lalu dikarenakan tidak melengkapi imunisasi, dan yang satunya karena malnutrisi. Jadi, selain diberikan imunisasi, para orang tua yang mengantarkan anaknya juga mendapatkan informasi tentang makanan dan kebersihan. Agar lebih memperkuat imun anak tentang penyakit yang membuat lumpuh hingga kematian itu. “Dapat ilmu baru seperti ini ya ikut terbantu. Harus seperti apa menyikapinya dan pencegahan dini dari lingkungan juga penting,” ungkapnya.

Selain Asep di Bagor, Dewi Rahayu, 28, ibu muda dari Batembat, Pace, mengatakan antusias mengikuti imunisasi polio. Meski anaknya sudah diberikan imunisasi polio, namun dia juga ingin divaksin polio lagi. “Dokter dan bidan sudah tahu dosisnya. Ya semoga tidak ada kasus polio di Nganjuk,” harapnya.

Perempuan berjilbab ini mengatakan, sebenarnya anaknya juga sudah mendapatkan imunisasi polio saat ikut posyandu di desa. Namun, dengan adanya informasi untuk memperkuat imun dengan imunisasi tambahan untuk anaknya. Hal tersebut tidak menjadikannya untuk ragu memberi imunisasi tambahan. “Tidak masalah. Justru sebagai orang tua itu harus melindungi anak kita,” pungkasnya.

Dinas Kesehatan Tidak Mau Kecolongan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk tak ingin kecolongan. Meski kasus polio belum ada di Kota Angin tetapi Dinkes Kabupaten Nganjuk sudah melakukan jemput bola untuk melakukan imunisasi polio ke anak 0-7 tahun.

Menggerakkan posyandu di setiap kecamatan di Kabupaten Nganjuk, targetnya 123 ribu anak harus terimunisasi di Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. “Jadi nanti Februari kami lakukan untuk dosis keduanya,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Nganjuk dr. Hendriyanto.

Hendriyanto menyampaikan imunisasi ini dilakukan sebagai langkah antisipasi. Karena penyebaran virus polio bisa datang kapan saja. Yang menjadi perhatian adalah, pencegahan ekstra dari orang tua.

Dokter berkacamata itu mengatakan, jika sosialisasi terhadap orang tua anak dan lingkungan itu sangat perlu. Salah satunya untuk mencegah anak-anak memasukkan makanan yang tidak sehat ke mulut mereka. Lalu, mencuci tangan setiap selesai buang air atau ketika bermain.

Hendriyanto mengatakan, jika yang paling efektif untuk mengajak orang tua dan anak-anak untuk melakukan vaksinasi adalah dengan sosialisasi. Baik melalui antar ibu rumah tangga, kader posyandu dan juga tentunya dari pihak RT-RW, desa, hingga ke kecamatan. “Semua harus aktif bergerak,” ungkapnya.

Sampai hari kelima kemarin, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Nganjuk Christiana Firmaningtyas, masih melakukan rekap tentang data capaian.

Sementara itu, dari data yang didapatkan oleh Jawa Pos Radar Nganjuk, dua kecamatan di ujung timur Kabupaten Nganjuk seperti di Kertosono dan Kecamatan Baron sudah menunjukkan angka 90 persen lebih. “Dari data yang kami peroleh, ada 91 persen. Tapi data masih berjalan. Semoga besok sudah bisa mencapai 100 persen,” ujar Camat Kertosono Nurul Huda.

Huda mencatat, dari total 6.988 anak yang harus mendapatkan imunisasi Sub-Pin Polio, menyisakan sekitar 500 anak lagi. Berbeda dengan Kertosono, di Kecamatan Baron, sudah mencapai 96 persen. “Dari 5.763 sudah terimunisasi sebanyak 5.568 per Jumat (19/1),” sambung Koordinator Imunisasi (Korim) Baron Rika Kurnia Asri. 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#imunisasi #kesehatan #polio #nganjuk