NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Satu orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) pada Januari 2025. Selain itu, ada 118 orang harus dirawat karena DBD. Jumlah penderita DBD ini naik dua kali lipat dibanding Januari 2024 lalu, yakni hanya 44 kasus.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, selama tahun 2024, ada 1.304 kasus DBD yang terdata. "Tahun ini diprediksi penderita DBD akan naik. Jadi, warga harus waspada," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr Hendriyanto melalui Admin Kesehatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Ruly Fika Bayuwati.
Menurutnya, tren kenaikan kasus tersebut karena siklus tiga tahunan. Kenaikan itupun tak hanya terjadi di wilayah Kabupaten Nganjuk. Akan tetapi, seluruh Jawa Timur.
Menurut Fika, kawasan pemukiman padat penduduk cenderung berisiko tinggi untuk penyebarannya paling banyak. Sebab, semakin banyak hunian, potensinya juga akan semakin banyak.
“Tahun 2024, sebarannya paling banyak di Kecamatan Tanjunganom ada 150 kasus,” ujarnya.
Adapun tingginya kasus selama tahun 2024, menurutnya salah satunya karena siklus cuaca selama satu tahun terakhir. Menurutnya, saat ada El Nino itu juga berpengaruh kepada nyamuk.
“Pengaruh El Nino menyebabkan lingkungan semakin mendukung untuk perkembangbiakan nyamuk secara pesat dan meningkatkan frekuensi nyamuk untuk lebih sering menggigit,” urainya.
Yang berarti bahwa banyak yang terkena, juga semakin luas.
Sehingga, dengan El Nino tersebut, nyamuk akan sering menggigit. Yang berarti bahwa banyak yang terkena, peyebarannya juga semakin banyak dan berkembangbiak juga semakin banyak lagi.
Untuk menekan agar kasusnya tidak semakin tinggi, pihaknya pun juga sudah mendorong kader-kader Puskesmas untuk menambah frekuensi pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, masyarakat juga harus turut ikut serta menjaga lingkungan rumah agar tetap bersih dan terawat. “Masyarakat harus gencar PSN untuk memberantas nyamuk,” tandasnya. (nov/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira