36 Ribu Perempuan Indonesia Terkena Kanker Serviks Setiap Tahun, Ini Cara Pencegahannya
Elna Malika• Jumat, 25 April 2025 | 23:02 WIB
Setiap Tahun 36 Ribu Perempuan Indonesia Terkena Kanker Serviks, Ini Cara Pencegahannya
JP Radar Nganjuk - Kanker serviks terus menjadi momok bagi perempuan di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 36.000 kasus baru kanker serviks muncul setiap tahun, menjadikannya kanker kedua paling mematikan setelah kanker payudara.
Penyakit ini, yang menyerang leher rahim, sebagian besar dipicu oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi, yang ditularkan melalui kontak seksual.
Tanpa pencegahan dan deteksi dini, kanker serviks dapat berkembang menjadi stadium lanjut, yang sulit diobati dan berisiko fatal.
Selain infeksi HPV, sejumlah faktor meningkatkan risiko kanker serviks, termasuk hubungan seksual di usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, merokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan kurangnya akses ke layanan kesehatan.
“Sayangnya, banyak perempuan di Indonesia masih kurang aware akan pentingnya skrining rutin, terutama di daerah-daerah terpencil,” ungkap dr. Anita, seorang ginekolog dari Jakarta.
Rendahnya kesadaran ini, ditambah stigma seputar pemeriksaan organ reproduksi, membuat banyak kasus terdeteksi pada tahap lanjut.
Untungnya, kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang dapat dicegah dengan langkah-langkah berikut:
Vaksinasi HPV: Vaksin HPV sangat efektif mencegah infeksi virus penyebab kanker serviks. Vaksin ini dianjurkan untuk perempuan usia 9–45 tahun, idealnya sebelum aktif secara seksual. Program vaksinasi gratis juga mulai digalakkan pemerintah di beberapa daerah.
Skrining Rutin: Tes Pap smear atau tes HPV dapat mendeteksi perubahan sel abnormal di leher rahim sebelum menjadi kanker. Perempuan disarankan menjalani skrining setiap 3–5 tahun mulai usia 21 tahun.
Gaya Hidup Sehat: Menghindari rokok, menjaga pola makan seimbang, dan berolahraga dapat meningkatkan imunitas tubuh untuk melawan infeksi HPV.
Edukasi dan Kesadaran: Kampanye tentang pentingnya deteksi dini dan vaksinasi perlu terus digencarkan, terutama di komunitas dengan akses kesehatan terbatas.
Pemerintah telah berupaya meningkatkan akses ke vaksinasi dan skrining melalui program kesehatan nasional, tetapi tantangan seperti distribusi vaksin yang tidak merata dan biaya skrining masih menjadi kendala.
Organisasi masyarakat dan tenaga kesehatan juga berperan penting dalam mengedukasi perempuan tentang risiko kanker serviks.
“Deteksi dini dan vaksinasi bisa menyelamatkan nyawa. Jangan malu atau takut untuk memeriksakan diri,” pesan dr. Anita.
Dengan kombinasi vaksinasi, skrining rutin, dan peningkatan kesadaran, angka kejadian kanker serviks di Indonesia dapat ditekan.
Langkah kecil seperti memeriksakan diri ke puskesmas atau berkonsultasi dengan dokter bisa menjadi awal untuk melindungi perempuan Indonesia dari ancaman penyakit mematikan ini.