JP Radar Nganjuk - Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia, dengan estimasi kasus mencapai 1 juta setiap tahunnya, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India.
Angka kematian akibat penyakit ini juga mengkhawatirkan, dengan sekitar 134.000 jiwa per tahun atau setara dengan 17 kematian per jam.
Peningkatan kasus ini sebagian besar didorong oleh perbaikan sistem deteksi, tetapi tantangan besar masih ada dalam mencegah penularan dan memastikan pengobatan yang tuntas.
Artikel ini akan membahas bagaimana TBC menyebar, faktor risikonya, dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru-paru, meskipun dapat menyebar ke organ lain seperti tulang, otak, atau ginjal.
Penyakit ini menyebar melalui udara ketika penderita TBC paru aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah, melepaskan droplet (percikan dahak) yang mengandung bakteri.
Satu kali batuk dapat menghasilkan hingga 3.000 droplet, sementara bersin bahkan bisa melepaskan hingga 1 juta bakteri.
Orang yang menghirup udara yang terkontaminasi droplet ini berisiko tertular, terutama jika berada dalam kontak erat atau di ruangan dengan ventilasi buruk.
Penularan TBC sangat mudah terjadi di lingkungan yang padat, seperti rumah tangga, penjara, atau komunitas dengan sanitasi buruk.
Penderita TBC paru dengan hasil tes dahak positif (BTA positif) dapat menularkan penyakit ini kepada 10-15 orang di sekitarnya dalam setahun jika tidak diobati.
Namun, penting untuk dicatat bahwa TBC tidak menular melalui sentuhan, berbagi makanan, atau kontak fisik langsung, melainkan hanya melalui droplet di udara.
Beberapa faktor meningkatkan risiko seseorang tertular atau mengembangkan TBC aktif:
- Sistem Kekebalan Tubuh Lemah: Orang dengan HIV/AIDS, diabetes, malnutrisi, atau kondisi yang melemahkan imunitas memiliki risiko lebih tinggi. Misalnya, pengidap diabetes memiliki risiko 2-4 kali lebih besar terkena TBC aktif.
- Kondisi Sosial dan Lingkungan: Kemiskinan, kepadatan penduduk, dan kurangnya ventilasi di tempat tinggal memperbesar peluang penularan. Ruangan yang lembap, minim sinar matahari, atau ber-AC tanpa sirkulasi udara baik juga menjadi tempat ideal bagi bakteri TBC.
- Kebiasaan Hidup: Merokok meningkatkan risiko TBC hingga 1,6 kali, sedangkan konsumsi alkohol berlebihan meningkatkan risiko hingga 3,3 kali. Malnutrisi, terutama pada anak, juga membuat seseorang lebih rentan.
- Kontak Erat: Anak-anak dan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC aktif sangat rentan, terutama jika penderita tidak menjalani pengobatan. Kasus TBC pada anak meningkat tiga kali lipat pasca pandemi Covid-19 karena penularan dari orang dewasa di rumah.
Baca Juga: Sering Menatap Layar HP dan Laptop? Ini Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Mata agar Tak Mudah Lelah
Lonjakan kasus TBC di Indonesia tidak hanya menimbulkan dampak kesehatan, tetapi juga beban sosial, psikologis, dan ekonomi. Stigma terhadap penderita TBC sering membuat mereka enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan, memperburuk penularan.
Selain itu, pengobatan TBC memerlukan waktu minimal 6 bulan, dan ketidakpatuhan pasien dapat menyebabkan resistensi obat (TBC-RO), yang lebih sulit dan mahal untuk diobati.
Pada 2022, keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat mencapai 85%, sedangkan TBC resisten obat hanya 55%.
Pandemi Covid-19 juga memperparah situasi dengan mengganggu deteksi dan akses pengobatan, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi.
Meski deteksi kasus meningkat menjadi 809.000 pada 2023, masih ada sekitar 25% kasus yang belum ditemukan, menjadi sumber penularan potensial.
Untuk memutus rantai penularan TBC, berbagai upaya dapat dilakukan:
- Deteksi Dini dan Pengobatan Tuntas: Program “TOSS TBC” (Temukan, Obati Sampai Sembuh) mendorong pemeriksaan dini dan pengobatan hingga sembuh untuk menghentikan penularan.
- Perilaku Hidup Sehat: Konsumsi makanan bergizi, olahraga ringan, istirahat cukup, serta menghindari rokok dan alkohol dapat memperkuat imunitas. Etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau siku) dan penggunaan masker oleh penderita juga penting.
- Vaksinasi BCG: Vaksin ini diberikan kepada bayi untuk mencegah TBC berat, meskipun tidak sepenuhnya mencegah infeksi.
- Terapi Pencegahan TBC (TPT): Diberikan kepada kontak erat penderita, seperti anak di bawah 5 tahun atau orang dengan HIV, untuk mencegah perkembangan TBC aktif.
- Perbaikan Lingkungan: Menjaga ventilasi yang baik, kebersihan rumah, dan paparan sinar matahari dapat mengurangi risiko penularan.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Perpres No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC, yang mencakup strategi seperti penguatan komitmen lintas sektor, peningkatan akses layanan kesehatan, dan pemanfaatan teknologi untuk deteksi dan pengobatan.
Target eliminasi TBC pada 2030 adalah menurunkan insiden menjadi 65 per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 per 100.000 penduduk.
Untuk 2025, Kementerian Kesehatan menargetkan deteksi 90% kasus (sekitar 981.000 kasus) dan keberhasilan pengobatan hingga 90% untuk TBC sensitif obat.
Kolaborasi dengan sektor swasta, komunitas, dan mitra internasional, seperti hibah USD 10 juta dari Uni Emirat Arab, juga menjadi bagian dari upaya ini.
Dengan 1 juta kasus TBC per tahun, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan penyakit ini. Penularan melalui udara, diperparah oleh faktor lingkungan dan sosial, membuat TBC mudah menyebar, terutama di kalangan kelompok rentan.
Namun, dengan deteksi dini, pengobatan tuntas, dan pencegahan yang tepat, TBC dapat dikendalikan.
Kesadaran masyarakat, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen pemerintah menjadi kunci untuk mencapai eliminasi TBC pada 2030, demi melindungi generasi emas Indonesia di masa depan.
Editor : Elna Malika