RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM – Stok darah golongan AB di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nganjuk mulai menipis. Dari total 90 kantong darah yang tersedia per 1 April 2026, hanya 8 kantong darah golongan AB yang tersisa.
Kondisi ini menjadikan stok darah AB sebagai yang paling sedikit dibandingkan golongan darah lainnya di PMI Nganjuk.
Kepala UDD PMI Kabupaten Nganjuk, dr. Achmad Noeroel Cholis, menjelaskan bahwa secara umum ketersediaan darah masih tergolong aman. Namun, golongan darah tertentu seperti AB perlu mendapat perhatian khusus karena jumlahnya terbatas.
“Stok golongan darah AB saat ini paling minim,” ujarnya.
Ia merinci, stok darah terbanyak berasal dari golongan O sebanyak 35 kantong. Disusul golongan B dengan 29 kantong, serta golongan A sebanyak 18 kantong.
Menurut Cholis, kebutuhan darah di rumah sakit bersifat fluktuatif dan dapat meningkat sewaktu-waktu. Permintaan biasanya datang dari pasien operasi, korban kecelakaan, hingga penderita penyakit tertentu yang membutuhkan transfusi darah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya donor darah secara rutin untuk menjaga ketersediaan stok tetap aman.
“Donor darah tidak hanya membantu pasien, tapi juga baik untuk kesehatan pendonor jika dilakukan secara rutin,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan stok, PMI Nganjuk terus melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan metode jemput bola, yakni menggelar layanan donor darah keliling ke desa-desa dan pusat keramaian menggunakan mobil unit donor.
Selain itu, layanan donor darah juga tetap dibuka setiap hari di kantor UDD PMI Nganjuk.
“Kami juga mengadakan layanan donor di luar, seperti kemarin di Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot,” jelasnya.
Cholis menegaskan, pihaknya harus selalu memastikan ketersediaan darah dalam kondisi aman agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di rumah sakit.
Di sisi lain, pengelolaan stok darah juga harus seimbang. Pasalnya, darah memiliki masa simpan terbatas sehingga berisiko kedaluwarsa jika terlalu lama disimpan.
“Kami pantau terus stok yang menipis. Data pendonor juga kami gunakan untuk menghubungi mereka sesuai golongan darah yang dibutuhkan,” terangnya.
Sementara itu, salah satu pendonor aktif, Febri Agus (29), mengaku telah mendonorkan darahnya sebanyak 47 kali sejak pertama kali ikut kegiatan Palang Merah Remaja (PMR).
“Awalnya sempat pusing saat pertama donor, tapi setelah rutin justru kalau tidak donor badan terasa kurang enak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial yang bisa dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu memiliki banyak uang.
“Banyak orang membutuhkan darah. Berbagi tidak harus dengan uang, apa yang kita punya termasuk darah juga bisa membantu,” pungkasnya. (nov/tyo)
Editor : rekian