JP Radar Nganjuk - Musibah, Kita sangat akrab dengan kata itu. Pasalnya dalam kehidup an sehari-hari, kita senantiasa melihat, mendengar, bahkan mengalami sendiri berbagai musibah.
Banjir, angin, puting beliung, gempa, tsunami kekeringan, dan termasuk juga berbagai penyakit adalah macam-macam musibah.
Mengapa seseorang bisa tertimpa musibah, termasuk penyakit? Apakah sebagai hukuman dari Allah Swt? Ataukah sebagai ujian yang harus diterima sebagai makhluk Sang Khaliq agar naik kelas imannya? Menurut ustadz Dhanu, bukanlah suatu hukuman dari Allah untuk hambaNya.
Bukan pula terjadi tidak ada hubungan dengan perbuatan manusia atau kita sendiri.
Sebab di dalam Alqur'an surat Asy-Syura Ayat 30 telah difirmankan sebagai berikut:
وَمَا أَصْبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ
Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebab kan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). QS: Asy-Syura 30.
Apa saja yang menimpa manusia, baik musibah pada diri atau harta kita, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan maksiat dari tangan kita sendiri.
Perilaku - perilaku kita yang tidak baik terhadap pasangan kita, anak-anak kita, bawahan-bawahan kita, atau terhadap teman-teman kita, maka akan berbuah dalam bentuk penyakit pada diri kita.
Allah memaafkan banyak dari kesalahan kesalahan dan tidak menghukum kalian karenanya, dan Allah tidak merendahkan diri-Nya dengan menurunkan musibah tersebut.
Namun demikian, kesalahan-kesalahan terhadap orang lain itu perlu dibersihkan terlebih dahulu dengan meminta maaf.
Menurut ustadz Dhanu jika Allah tidak memaafkan orang-orang yang sedang sakit. maka sakitnya tetap dia derita.
Oleh karena itu, tanda Allah memaafkan seseorang yang sedang sakit adalah memberikan kesembuhannya.
Lalu, apakah sudah selesai sampai di situ? Ternyata tidak, karena masih ada proses untuk membersihkan.
Pada tahap selanjutnya, maka meminta ampun kepada Allah sehingga Allah tidak hanya memaafkan kesalahan kita, tapi juga mengampuninya.
Apabila kita tidak memohon ampun kepada Allah, maka di akhirat kelak kita akan disiksa atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan.
Meminta ampun (istighfar) tentu bisa dilakukan kapan saja, namun ada waktu yang mustajab sesuai tuntunan Islam, seperti yang tertuang dalam QS Adz-Dzariyat 51: 18.
"Wa bil ashaarihum yastaghfiruun"
Artinya: "Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)"
Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, pengajar tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan.
Wahai manusia, apa yang menimpa kalian berupa petaka dan penderitaan itu disebabkan oleh kemaksiatan kalian.
Dia memaafkan banyak dosa manusia, sehingga dia tidak dihukum.
Apa yang diterima orang-orang yang tidak berdosa adalah Dia mengangkat derajat mereka.
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah (Dan apa saja yang telah menimpa kalian) ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin (berupa musibah) berupa malapetaka dan kesengsaraan (maka adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri) artinya, sebab dosa-dosa yang telah kalian lakukan sendiri.
Diungkapkan bahwa dosa-dosa tersebut dikerjakan oleh tangan mereka, hal ini mengingat, bahwa kebanyakan pekerjaan manusia itu dilakukan oleh tangan (dan Allah memaafkan sebagian besar) dari dosa-dosa tersebut, karena itu Dia tidak membalasnya.
Dia Maha Mulia dari menduakalikan pembalasan-Nya di akhirat. Adapun mengenai musibah yang menimpa kepada orang-orang yang tidak ber dosa di dunia, dimaksudkan untuk mengangkat derajatnya diakhirat kelak.
Allah Swt. memberitahukan bahwa tidaklah Dia menimpakan musibah pada badan mereka, harta mereka, dan anak-anak mereka dan apa saja yang mereka cintai, dimana mereka sangat mencintainya kecuali disebabkan perbuatan tangan mereka, yaitu karena mereka melakukan berbagai maksiat.
Namun Allah lebih banyak memaafkan, karena Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, Allah Swt. berfirman
"Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu pun akan yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya." (QS Al-Fathir: 45)
Penundaan itu bukanlah berarti meremehkan atau karena lemah. Digunakan kata tangan, karena kebanyakan tindakan yang dilakukan oleh manusia dengan tangannya.
Musibah bagi orang-orang yang berdosa adalah untuk menghapuskan dosa-dosa mereka (dengan catatan memohon ampun kepada Allah Swt), adapun bagi orang yang tidak berdosa, musibah untuk meninggikan derajat mereka di surga.
Selanjutanya kita akan membahas tentang penyakit apa saja yang berkaitan dengan dosa-dosa dan akhlak kita menurut Ustadz Dhanu. Baca Selalu Jawa Pos Radar Nganjuk.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira