Setan tak lagi datang dalam rupa menakutkan. Di era digital ini, ia menyelinap lewat algoritma, menggoda lewat notifikasi, dan membisikkan kebimbangan melalui pikiran yang terus terpacu oleh informasi.
Dalam tradisi keagamaan, khususnya Islam, godaan setan dikenal sebagai waswas—bisikan halus yang menggoyahkan niat dan keyakinan manusia. Di zaman yang serba cepat dan terhubung seperti sekarang, bisikan itu tak selalu datang di tempat sunyi. Ia bisa menyusup lewat linimasa media sosial, tren budaya populer, atau bahkan dalam narasi yang mengaburkan batas antara benar dan salah.
Godaan dari Gawai
Lewat layar yang setiap hari digenggam manusia, setan zaman modern bekerja lebih efektif dari sebelumnya. Konten pornografi, ujaran kebencian, berita palsu, hingga budaya pamer dan iri hati menjadi ladang subur bagi godaan tak kasatmata. Apa yang dulu dianggap dosa, kini dikemas sebagai gaya hidup. Apa yang dulu dirahasiakan, kini dirayakan di ruang publik digital.
Relativisme Moral dan Kebebasan Tanpa Batas
Zaman ini memuja rasionalitas dan kebebasan. Dalam iklim semacam itu, setan menggoda dengan cara yang lebih intelektual. Kebenaran menjadi relatif. Nilai moral dianggap usang. Keyakinan direduksi menjadi sekadar urusan privat. Kebebasan menjadi alasan untuk menafsirkan maksiat sebagai ekspresi diri.
“Selama tidak merugikan orang lain, apa salahnya?” menjadi mantera populer. Padahal, di balik kebebasan itu, tersembunyi jebakan untuk meninggalkan nilai dan tanggung jawab sosial.
Konsumerisme dan Egoisme
Setan masa kini juga menjelma dalam bentuk gaya hidup: dorongan untuk terus membeli, menumpuk, dan memamerkan. Konsumerisme dijual sebagai kebahagiaan, individualisme dipuja sebagai pencapaian. Spiritualitas tergantikan oleh target dan algoritma.
Perlawanan Sunyi
Meski begitu, manusia tak sepenuhnya tanpa daya. Kesadaran, refleksi, dan kembali pada nilai-nilai dasar menjadi bentuk perlawanan terhadap godaan era baru ini. Dalam dunia yang penuh distraksi, memilih diam dan kembali ke dalam diri bisa menjadi bentuk jihad yang paling relevan.
Godaan setan zaman modern tidak lagi frontal. Ia halus, menyusup, dan menyamar dalam bentuk yang paling akrab: keinginan diri sendiri. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita digoda, tapi apakah kita sadar sedang digoda?
Editor : Jauhar Yohanis