Maulidan dengan Rebutan Hadiah, Tradisi Puluhan Tahun di Kapas
Karen Wibi• Minggu, 7 September 2025 | 18:54 WIB
TRADISI UNIK: Ratusan makanan ringan hingga peralatan rumah tangga digantung di serambi Masjid Al-Muttaqin, Lingkungan Santren, Kapas saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Warga di Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro memiliki tradisi unik untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Yaitu dengan berebut hadiah. Diketahui tradisi itu sudah berlangsung di Kelurahan Kapas sejak puluhan tahun lalu. “Tidak ada yang tahu awal mulanya. Namun yang pasti tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu,” ujar takmir masjid bernama Fatihul Ihsan kepada wartawan koran ini.
Dari informasi yang dihimpun koran ini, tradisi unik itu selalu berlangsung H-1 Maulid Nabi Muhammad SAW. Waktunya adalah setelah salat Isya berjamaah di masjid. Biasanya, sekitar pukul 21.00 WIB. Sebelum memulai tradisi berebut hadiah, acara dimulai dengan salat Isya berjamaah. Lalu dilanjutkan sholawatan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan pembagian makanan kepada jemaah masjid.
Acara yang paling dinantikan akhirnya dimulai. Yaitu berebut hadiah. Sebelum dimulai, puluhan hadiah sudah digantung di langit-langit masjid. Hadiah tersebut diikat pada tali rafia. Dalam hitungan ketiga, puluhan jemaah masjid yang sudah menunggu langsung berebut hadiah.
Hadiah yang digantung juga sangat bervariasi. Mulai dari uang, mainan anak-anak, perlengkapan rumah tangga, makanan ringan, sayur, hingga buah-buahan. Semuanya lengkap. “Zaman dulu isinya hanya makanan ringan. Lalu terus ditambah hingga bervariasi seperti saat ini,” ujarnya.
Fatihaul menjelaskan tentang awal mula tradisi tersebut. Dulunya tradisi itu dilakukan agar anak-anak kecil tertarik datang ke masjid. Oleh karena itu, mayoritas hadiahnya adalah makanan ringan. Namun seiring berjalannya waktu, tidak hanya anak-anak yang tertarik dengan tradisi itu. Melainkan juga emak-emak hingga bapak-bapak. Sehingga, variasi hadiah terus ditambah. “Hadiah-hadiah ini juga berasal dari urunan warga. Jadi dari warga, oleh warga, dan untuk warga sendiri,” imbuhnya.
Sementara itu, Nurhadi, 47, salah satu warga setempat mengaaku sangat antusias dengan tradisi itu. Alasannya tentu karena dia bisa mendapat banyak hadiah. Sedangkan Kamis lalu (4/9), Nur mendapat hadiah berupa mie instan dan beberapa sayuran. “Selain dapat hadiah, warga-warga di sini bisa berkumpul semua. Jadi, guyub,” ujarnya. (wib/tyo)