Banjir susulan menghantui warga Kabupaten Nganjuk. Karena beberapa minggu ke depan memasuki puncak musim penghujan. Curah hujan akan tinggi.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sawahan Nganjuk Sumber Harto mengatakan, cuaca buruk masih akan terjadi beberapa minggu ke depan.
“Puncak musim penghujan terjadi bulan ini. Hal itu yang menyebabkan cuaca buruk terjadi,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Harto menyebut, ada beberapa alasan mengapa cuaca buruk terjadi di Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya. Penyebab pertama karena aktifnya Monsun Asia dan adanya fenomena gelombang atmosfer Equatorial Rossby yang melintas di langit Jawa Timur. Fenomena tersebut yang mengakibatkan peningkatan pertumbuhan awan-awan penghujan di Jawa Timur.
Oleh sebab itu, Harto mengimbau masyarakat untuk berhati-hati. Terlebih bagi masyarakat yang bekerja di lapangan. Karena diperkirakan akan banyak bencana alam yang terjadi. Seperti banjir, angin kencang, hingga petir. Bahkan bencana alam dapat kian parah di daerah tertentu. Seperti di daerah dataran tinggi.
“Bencana banjir masih mengancam Kabupaten Nganjuk,” tandasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk Budianto mengatakan, hujan deras di Kabupaten Nganjuk beberapa hari terakhir menyebabkan banjir di beberapa kecamatan. Total ada enam kecamatan yang mengalami banjir.
Seperti, Senin (27/1), banjir parah terjadi di Kecamatan Nganjuk. Di Nganjuk, banjir terjadi akibat luapan Sungai Kuncir di Dam Tanjungrejo. Banjir tersebut menyebabkan jalanan di Kelurahan Ploso dan sekitarnya tergenang.
Bencana banjir terus berlanjut pada Selasa (28/1). Kali ini gantian Kecamatan Pace yang merasakan dampaknya. Banjir terparah terjadi di Desa Joho. Banjir tersebut berawal dari tanggul sungai yang jebol. Akibatnya belasan rumah terendam.
“Banjir merendam beberapa rumah di Desa Joho, Kecamatan Pace,” ujarnya.
Bahkan akibat banjir itu, dua balita di Kecamatan Sukomoro meninggal dunia. Mereka adalah M. Toha Hasan Jaddit, 2, asal Kelurahan Kapas dan Salman Bahanan Dizaro, 3, asal Desa Bagorwetan. (wib/tyo)