Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah

Tarif Impor AS untuk Indonesia Melonjak Dari 32% Jadi 47%, Benarkah Indonesia Jadi Yang Tertinggi Di ASEAN? Simak Faktanya

Redaksi Radar Nganjuk • Sabtu, 19 April 2025 | 19:04 WIB
Dapat Giliran Pertama, Indonesia Akan Negosiasi Tarif Dengan Donald Trump di Washington DC Besok
Dapat Giliran Pertama, Indonesia Akan Negosiasi Tarif Dengan Donald Trump di Washington DC Besok

JP Radar Nganjuk- Pemerintah Amerika Serikat kembali menaikkan tarif impor untuk produk asal Indonesia. Kali ini, tarif melesat dari 32 persen menjadi 47 persen.

Kenaikan ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan beban tarif tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.

Langkah ini diumumkan pada 18 April 2025 sebagai bagian dari kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump yang dikenal dengan nama Liberation Day Tariffs.

Kebijakan itu bertujuan untuk mengurangi defisit perdagangan Negeri Paman Sam terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.

”Kebijakan ini cukup mengejutkan karena sebelumnya tarif sudah naik ke 32 persen, dan kini melonjak lagi jadi 47 persen,” kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, Jumat (19/4).

Ia menjelaskan, sektor ekspor utama Indonesia seperti tekstil, garmen, dan alas kaki akan terdampak serius.

Bahkan, efeknya bisa menjalar ke ekspor bahan baku seperti nikel olahan, yang selama ini dikirim ke China untuk kebutuhan produksi baterai kendaraan listrik.

Berikut daftar tarif impor terbaru yang dikenakan AS untuk negara-negara ASEAN:

1. Kamboja: 49%
2. Laos: 48%
3. Indonesia: 47%
4. Vietnam: 46%
5. Myanmar: 44%
6. Thailand: 36%
7. Malaysia: 24%
8. Brunei: 24%
9. Filipina: 17%
10. Singapura: 10%

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mengambil jalur konfrontatif.

Pemerintah memilih pendekatan negosiasi bersama negara-negara ASEAN lainnya.

Baca Juga: Perjamuan Suci Jumat Agung di Nganjuk, Ini Harapan dan Pesan Umat Kristiani

”ASEAN sepakat untuk tidak melakukan retaliasi. Indonesia dan Malaysia, misalnya, akan menghidupkan kembali perjanjian Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) untuk memasukkan isu-isu perdagangan yang relevan,” ujar Airlangga.

Sebagai langkah strategis, pemerintah juga berencana meningkatkan impor dari AS hingga USD 19 miliar.

Impor itu mencakup produk-produk pangan dan energi.

Langkah ini diharapkan bisa menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus mencegah tarif yang lebih tinggi di masa mendatang.

Pakar ekonomi menyarankan agar Indonesia mulai melakukan diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat hubungan dagang dengan negara mitra lainnya.

”Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada satu atau dua pasar ekspor besar. Diversifikasi sangat penting dalam situasi geopolitik seperti sekarang,” ujar Bhima.

Penulis: Effa Desiana Hidayah

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#berita nganjuk hari ini #Tarif Trump #donald trump #berita nganjuk terbaru #indonesia #Prabowo Subianto #ekonomi #amerika serikat