Photo Marcus Rashford Buka-bukaan: "Saya Selalu Marah", Ungkap Masa Sulit di Bawah Mourinho
Penyerang Manchester United, Marcus Rashford, akhirnya buka suara terkait pengalamannya bermain di bawah asuhan Jose Mourinho. Dalam sebuah wawancara, Rashford mengakui bahwa ia merasa "selalu marah" selama manajer asal Portugal itu melatih di Old Trafford.
Rashford, yang kini berusia 27 tahun, telah bekerja dengan beberapa manajer top dunia sepanjang kariernya di United. Setelah menimba ilmu di era Sir Alex Ferguson, ia kemudian diasuh oleh Louis van Gaal, Mourinho, Ole Gunnar Solskjær, Erik ten Hag, Ralf Rangnick, dan yang terakhir Ruben Amorim.
Meski era Mourinho sering dianggap sebagai yang paling sukses pasca-Ferguson—dengan raihan Piala Liga dan Liga Europa—hubungan antara pelatih dan pemain tidak selalu mulus.
Dalam siniar (podcast) The Rest Is Football, Rashford mengenang masa-masa tersebut. "Jika ditanya siapa yang paling berpengaruh, saya akan sebut (Louis) Van Gaal, Jose (Mourinho), dan Ole (Gunnar Solskjær)," ujarnya. "Saya punya banyak manajer berbeda, jadi sulit membandingkan mereka semua. Tapi ketika Anda masih pemain muda, sampai era Jose, saya belum pernah punya manajer yang begitu terobsesi dengan kemenangan."
Perbedaan Filosofi Van Gaal dan Mourinho
Rashford menjelaskan perbedaan pendekatan antara Van Gaal dan Mourinho. "Van Gaal juga terobsesi dengan kemenangan, tapi ia ingin tim bermain dengan gaya sepak bola yang indah. Jose tidak peduli—jika Anda menang, Anda menang. Kita langsung fokus ke pertandingan berikutnya," kata Rashford.
"Awalnya, saya selalu marah. Tapi karena kami terus menang, dan dia memang seorang pemenang, saya mulai mengerti. Dia tidak akan membahas kekurangan dari pertandingan sebelumnya jika kami menang. Namun, saat kami kalah, dia akan menyoroti semua kekurangan itu. Setelah beberapa bulan, saya mulai menghormati pendekatannya, dan saya menuai hasilnya saat dilatih olehnya," pungkas Rashford.
Pengakuan ini memberikan gambaran baru tentang dinamika di balik layar salah satu periode paling kontroversial di Manchester United, di mana pendekatan pragmatis Mourinho akhirnya membuahkan trofi, meski dengan cara yang tidak selalu populer.