Bagnaia mengaku melakukan perubahan menyeluruh pada motornya. “Perubahannya hampir di semua sisi motor. Hitungannya cuma beberapa sentimeter, tapi dampaknya besar sekali,” ujar Pecco.
Hasilnya langsung terasa. Start dari posisi ke-15, Bagnaia melesat hingga masuk enam besar di tikungan ketiga. Meski sempat kebingungan karena respons motor berbeda, lap demi lap ia makin nyaman hingga hanya finis enam detik dari podium, kendati sempat kehilangan waktu lima detik akibat melebar.
“Rasanya seperti bisa menarik napas lega. Sprint sudah memberi sinyal, lalu di balapan utama saya makin yakin. Sekarang tinggal kerja keras, saya percaya kita bisa kembali kuat,” katanya.
Soal kesulitan menyalip Pol Espargaró, Bagnaia mengakui keunggulan traksi KTM. Ducati, kata dia, lebih kuat saat pengereman – dan itulah yang jadi senjata utamanya untuk bangkit.
Pecco juga mengakui Hungaria mungkin titik terendah musimnya, sekaligus momen kebangkitan. “Ya, ini sinyal pertama performa membaik,” ujarnya.
Menyambut Barcelona, Bagnaia optimistis: “Itu trek MotoGP yang sesungguhnya. Biasanya saya cepat di sana. Dengan setelan baru ini, saya yakin bisa lebih baik.”
Bagi Ducati, keputusan besar di Hungaria jadi penentu. Dan bagi Bagnaia, inilah awal dari perjuangan merebut kembali kepemimpinan di tim merah dari bayang-bayang Márquez.
Editor : Miko