JP Radar Nganjuk- Perjalanan sejauh 1.581 kilometer dari Nganjuk menuju Lebong, Bengkulu, memasuki fase krusial. Yakni transisi antar-pulau. Setelah sempat melepas penat di Yogyakarta, Sabtu (14/3) pukul 09.00 WIB, saya kembali memacu kendaraan dari Kasihan, Bantul, membelah aspal Trans Jawa menuju Pelabuhan Merak.
Memasuki wilayah Jakarta, tantangan bukan lagi soal kecepatan, melainkan presisi navigasi. Volume kendaraan yang padat berkelindan dengan kompleksitas percabangan tol.
Ada pelajaran penting di sini. Jangan hanya terpaku pada Google Maps. Beberapa kali saya harus menelan pil pahit karena kebablasan. Memaksa saya harus keluar tol. Akibatnya, memaksa saya memutar jauh dan membuang waktu berharga. Di Jakarta, mata harus jeli membagi fokus antara layar gawai dan papan penunjuk jalan fisik. Akurasi navigasi adalah kunci agar estimasi waktu tidak meleset berjam-jam.
Tiba di pelabuhan menjelang tengah malam, saya mendapati kebijakan tiket yang cukup dinamis. Berdasarkan informasi pengaturan pelayanan penyeberangan periode 11 Maret – 29 Maret 2026, terdapat skema operasional khusus. Yakni, Layanan Ekspress tersedia via aplikasi mulai 13 Maret pukul 11.59 WIB.
Kemudian pada periode 13 Maret pukul 12.00 hingga 20 Maret (pukul 14.59), Pelabuhan Merak hanya melayani tiket reguler. Adapun arah sebaliknya, tiket ekspress hanya tersedia hingga 22 Maret. Per 23 Maret pukul 00.00, layanan kembali hanya untuk tiket reguler.
Salah satu temuan menarik dalam perjalanan ini adalah informasi saat pemesanan tiket di Rest Area. Saya mendapatkan kepastian bahwa untuk perjalanan malam ini Sabtu (14/3), layanan Reguler dan Ekspress diberlakukan satu harga.
Tanpa ragu, saya memilih Ferry Ekspress. Dengan membawa rombongan 5 dewasa dan 2 anak-anak, total biaya penyeberangan Merak-Bakauheni yang saya bayarkan melalui M-Banking adalah Rp 433.400 ke PT Finnet Indonesia.
Pembelian tiket di rest area dilakukan satu jam sebelum sampai di pelabuhan. Pemesanan keberangkatan pukul 23.00 - 24.00. Perjalanan tepat waktu dan petugas kapal tetap melakukan verifikasi di gerbang masuk pelabuhan.
Sekitar pukul 23.00 WIB, kapal ferry yang kami tumpangi mulai membelah lautan. Di tengah sapuan angin laut Selat Sunda itulah, hari berganti dari Sabtu ke Minggu (15/3).
Penggunaan layanan Ekspress terbukti sangat efisien. Hanya butuh waktu sekitar 2 jam 10 menit bagi kapal untuk bersandar di Pelabuhan Bakauheni karena kami tiba pukul 01.10 WIB.
Efisiensi waktu ini sangat krusial sebagai modal energi sebelum menghadapi tantangan sesungguhnya. Yakni Lintas Sumatera yang bergelombang menuju Lebong, Provinsi Bengkulu.
Editor : rekian