NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Negeri tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Hal ini dilakukan setelah dinas pendidikan (disdik) mengevaluasi kekurangan PPDB tahun lalu. Untuk jalur prestasi, disdik mengizinkan SMPN menggelar tes atau ujian tulis untuk seleksi calon siswa baru. Ini dilakukan agar sekolah dasar (SD) tidak berlomba-lomba memberi nilai terlalu tinggi di rapor kelas IV, V, dan VI semester 1. Karena nilai rapor tidak semata-mata jadi acuan untuk diterima jalur prestasi akademik. “Prosentase pembobotan untuk tes tulis 60% dan nilai rapor empat mata pelajaran sebesar 40% untuk jalur prestasi akademik,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk Sopingi kemarin.
Untuk itu, Sopingi meminta kepada SMPN yang ingin menggelar tes tulis segera memberitahu dinas pendidikan. Pemberitahuan harus secara tertulis. Setelah mendapat persetujuan dari disdik, tes tulis bisa dilaksanakan. “Tidak boleh menggelar tes tulis tanpa persetujuan disdik,” ingatnya.
Sopingi berharap, siswa yang lolos lewat jalur seleksi akademik adalah siswa yang benar-benar jago di bidang akademik. Karena itu, tes tulis dan nilai rapor digabung untuk mengetahui kemampuan siswa yang sesungguhnya. SMPN yang menggelar tes tulis harus melaksanakan secara fair dan objektif. Jangan ada kecurangan. Karena tujuan perubahan sistem ini untuk mencegah terjadinya kecurangan.
Selain jalur prestasi akademik, untuk PPDB SMPN tahun ini tidak mengalami perubahan. Sistem zonasi, perpindahan tugas orang tua, afirmasi, dan prestasi perlombaan masih tetap digelar. Pendaftaran akan pada 4-7 Maret untuk jalur prestasi. Kemudian, jalur afirmasi dimulai pada 13-15 Maret. Kemudian, jalur perpindahan orang tua pada 19-20 Maret. Terakhir, jalur zonasi akan dimulai pada 23-26 Maret.
Terpisah, Prasetyo, 43, warga Kertosono mengaku sudah mendengar adanya tes tulis untuk jalur prestasi akademik. Menurutnya, penggabungan antara nilai tes tulis dan rapor adalah cara yang tepat untuk mengukur kemampuan siswa di bidang akademik. Karena dengan cara itu, SD akan berpikir dua kali jika ingin me-mark up nilai rapor. “Pasti akan takut dites jika secara akademik anaknya tidak mampu,” ujarnya.
Prasetyo berharap, tes tidak hanya dilaksanakan untuk prestasi akademik. Namun, prestasi perlombaan juga harus dites. Itu untuk membuktikan jika siswa tersebut benar-benar berprestasi di cabang olahraga (cabor) atau seni. “Misalnya jika juara renang maka harus dites renang,” tandasnya.
Bapak satu anak ini mengatakan, tes tersebut akan membuat orang yang berniat melakukan kecurangan akan berpikir seribu kali. Sehingga, PPDB tahun ini bisa berlangsung fair dan objektif.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk