Bagi Kepala MTSN 2 Nganjuk Masrukin, belajar tentang sastra dan kesenian merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan saat tumbuh kembang anak. Karena bisa melatih siswa berkomunikasi yang baik. Kemudian, siswa juga belajar tentang budaya dan kesenian.
Kepala madrasah berusia 53 tahun itu mengatakan, jika sastra itu tidak terbatas untuk berkomunikasi. Baik di sekolah atau di luar sekolah. Namun, juga untuk belajar meningkatkan minat ke dalam dunia literasi. “Mungkin diawali dengan mengajak anak-anak membaca, lalu menulis, hingga ke panggung teatrikal,” ungkapnya.
Masrukin sendiri menjadi salah satu kepala madrasah yang mendapatkan penghargaan Kepala Penggerak Literasi Madrasah. Penghargaan yang diberikan oleh Ikatan Guru Madrasah Penggiat Literasi (IGMPL) Jawa Timur dan Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Nganjuk pada akhir Mei, dia didapuk bertugas meningkatkan minat untuk belajar sastra di madrasah.
Salah satunya, Masrukin pernah membuat ekstrakurikuler kesenian. Saat dia memimpin di MIN. Dia mengatakan, minat untuk belajar anak-anak MIN itu juga tinggi. Jadi lebih mudah untuk mengajari mereka.
Setelah pindah ke MIN 9, lalu MIN 1, MIN 2, dan terakhir ke MTSN 2 Nganjuk, dia tak pernah berhenti membawa program untuk belajar sastra, atau meningkatkan minat literasi kepada murid-muridnya. “Beberapa ada yang mungkin kurang cocok. Tapi namanya juga mencoba. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Saya tidak ingin memaksa untuk semua belajar dan minat terhadap literasi,” imbuh lelaki kelahiran Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot itu.
Selama menjabat hampir dua tahun di MTSN 2 Nganjuk, dia pun juga tak mengendurkan untuk mengajak para murid untuk belajar dan mendalami literasi. Baik menulis puisi, menulis cerpen, semua tetap didampingi oleh Masrukin. “Alhamdulillah mendapatkan penghargaan madrasah yang fokus terhadap literasi di tingkat nasional,” imbuhnya.
Masrukin mengatakan, tidak pernah memaksakan apa yang dia inginkan untuk siswa di madrasahnya harus diikuti oleh seluruh murid. Hanya yang mau belajar saja. Namun, semua yang dia perjuangkan kebanyakan berhasil. Bahkan Masrukin juga sempat menjadi pelatih dan pembina di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) untuk keseniannya.
Tidak sedikit penghargaan bagi murid-muridnya berhasil diraih di bidang literasi. Makanya, dia juga meraih penghargaan sebagai Kepala Penggerak Literasi Madrasah di tingkat Jawa Timur.
Yang diimpikan oleh Masrukin saat ini adalah untuk anak-anak bisa menggali potensi lain di luar pelajaran yang sudah didapatkan olehnya. Karena tidak semua anak bisa menjadi juara 1 di mata pelajaran. Ada yang memang kecerdasannya di bidang olahraga, ada di bidang musik, ada juga di bidang sastra.
Karena dia sebelumnya juga menjadi Guru Bahasa Indonesia, maka apa yang paling dia dalami juga tentang pelajaran sastra. Apalagi, saat dia kuliah, juga aktif dalam kegiatan seni teater. “Ilmu kalau tidak disebarluaskan juga akan sia-sia,” pungkasnya.