NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Beberapa SMPN di Kabupaten Nganjuk masih kesulitan mendapat murid baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Salah satunya seperti yang dialami oleh SMPN 5 Kertosono. Meski sudah membuka pendaftaran online dan offline, mereka belum bisa memenuhi pagu. “Baru ada sembilan calon siswa baru yang mendaftar,” ujar Kepala SMPN 5 Kertosono Mudayat kemarin.
Adanya sembilan calon siswa baru itu sedikit melegakan. Karena pada SPMB online lalu, tidak ada satu pun pendaftar di sekolah.
Sehingga, SMPN 5 Kertosono melanjutkan dengan membuka pendaftaran secara offline. Pendaftaran dibuka sejak Mei hingga Juli mendatang. Hasilnya, setelah satu bulan dibuka, ada sembilan murid yang mendaftar.
Baca Juga: Latihan Pendaftaran SPMB SMAN/SMKN Nganjuk Dimulai, Ini Jadwal dan Syarat Lengkapnya
Menurut Mudayat, kekurangan murid di SMPN 5 Kertosono bukan hal yang baru. Diketahui hal itu sudah terjadi sejak tahun 2017 lalu. Yaitu, sejak SMPN 3 Ngronggot berdiri.
Sebagai contoh, di tahun ajaran 2023/2024 lalu, SMPN 5 Kertosono hanya mendapat 25 murid saja.
Lalu di tahun 2024/2025, sekolah yang berada di Desa Bangsri itu mendapat 13 murid saja. Sedangkan di tahun ini, sekolah tersebut berhasil meluluskan 24 murid. “Banyak anak di sekitar sini yang lebih memilih bersekolah di SMPN 3 Ngronggot,” tambahnya.
Lebih lanjut, Mudayat mengatakan jumlah murid yang mendaftar di sekolah masih bisa bertambah. Karena diketahui pendaftaran SPMB offline masih akan dibuka selama beberapa minggu ke depan.
Baca Juga: Pendaftar harus Antre Satu Jam untuk Ambil PIN SPMB 2025
Sesuai jadwal, pendaftaran akan dibuka hingga tahun ajaran baru 2025/2026. Sedangkan tahun ajaran baru akan dimulai di pertengahan Juli. “Semoga jumlah murid masih dapat terus bertambah,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nganjuk Sopingi melalui Kasi Kurikulum dan Kesiswaan SMP Munawir mengatakan, banyak sekolah di Kabupaten Nganjuk yang kekurangan murid.
Ada beberapa alasan mengapa banyak sekolah negeri yang mulai tidak dilirik oleh calon siswa.
Alasan pertama karena banyak calon siswa yang memilih sekolah swasta berbasis agama. Selain itu banyak calon murid yang tetap ngotot mendaftar di sekolah yang dianggap sebagai sekolah favorit.
Meski harus mengorbankan jarak rumah dan sekolah yang jauh. “Banyak sekolah swasta yang membuka pendaftaran lebih awal dibanding SMPN,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis