Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Benarkah TKA Bisa Menjadi Senjata Orang Tua untuk Perangi Sleep Call 

Karen Wibi • Selasa, 1 Juli 2025 | 03:39 WIB

soal TKA tak boleh bocor
soal TKA tak boleh bocor

NGANJUK, JP Radar ­Nganjuk- Rencana pemerintah menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk menghilangkan sedekah nilai dari guru mendapat respons positif dari orang tua. Karena TKA menjadi solusi atas persoalan pelajar yang kecanduan dengan smartphone.

Salah satu bentuk dukungan orang tua agar TKA bisa terlaksana dengan baik maka guru diminta tidak melakukan kecurangan saat TKA. “Jangan sampai ada soal bocor atau kecurangan saat mengoreksi jawaban,” ujar Sahara Putri, 34, salah satu orang tua wali murid asal Kertosono.

Jika kecurangan masih dilakukan maka tujuan TKA untuk mengukur kemampuan siswa dan menghilangkan sedekah nilai rapor tidak akan terwujud. 

Ujung-ujungnya, siswa akan menganggap remeh kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Mereka akan kembali menjadi budak smartphone dengan melakukan sleep call dan tidak mau belajar. Akibatnya, kasus siswi SMK tidak bisa perkalian 6 x 4 akan kembali terulang. “TKA harus dilaksanakan secara fair dan objektif,” tandas Sahara.

tkaBaca Juga: Nilai Rapor di Bawah 89 Langsung Tersingkir dari SMA Favorit. Mendikdasmen Menyiapkan TKA Sebagai Solusi Jor-joran Nila Rapor

Menurut ibu dua anak ini, guru dan sekolah harus benar-benar memahami tentang kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Karena hanya mengejar siswa bisa masuk di SMPN dan SMAN yang dianggap favorit, mereka secara tidak sengaja meracuni anak didiknya.

Karena sedekah nilai itu menjadikan siswa malas. Untuk itu, evaluasi dari kementerian pendidikan dasar dan menengah menggelar TKA sebagai cara menghapus sedekah nilai rapor untuk sistem penerimaan murid baru (SPMB) di tingkat SMPN, SMAN, dan SMKN harus didukung. 

Sahara mengatakan, selama ini, dia merasa prihatin saat calon siswa baru mengandalkan jarak rumah dengan sekolah untuk masuk SMPN dan SMAN. Mereka seolah tidak peduli dengan ujian sekolah.

Apalagi, sedekah nilai mulai marak terjadi ketika SPMB mengandalkan nilai rapor. Jor-joran nilai rapor akhirnya terjadi. “Kalau dulu ujian nasional (unas) dipersoalkan karena mempengaruhi kelulusan ini ada TKA yang tidak ada kaitannya dengan kelulusan maka harus didukung,” ungkapnya. 

Baca Juga: Jor-joran Nilai Rapor SMP, PGRI Nganjuk Dukung Nilai Ujian Nasional untuk SPMB Tahun Depan

Terpisah, No, salah satu siswi SMK yang kecanduan sleep call mendukung rencana pemerintah menggelar TKA di tingkat SD, SMP, dan SMA. Karena baginya, apa yang dialami saat ini adalah kesalahannya, orang tua, dan kondisi pendidikan. “Saat saya mulai kecanduan sleep call itu saat Covid-19. Jadi, semuanya harus menggunakan smartphone dan tidak ada sekolah tatap muka,” ujarnya. 

No berharap, TKA benar-benar dilaksanakan secara fair dan objektif. Sehingga, dia juga rela jika nantinya tidak mendapat hasil yang bagus. Karena hasil TKA itu mencerminkan kemampuan siswa secara langsung. “TKA itu tidak mempengaruhi kelulusan. Jadi, harus benar-benar dilaksanakan secara fair dan objektif,” ungkapnya. (wib/tyo)

Editor : Jauhar Yohanis
#Tes Kemampuan Akademik #sleep call #tka