Kabar nyeleneh kembali terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Baru satu minggu berjalan, Sekolah Rakyat (SR) di Balai Diklat PNS, Dusun Krajan, Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi, sudah mengalami insiden.
Dilansir dari Radar Banyuwangi, salah satu siswa Sekolah Rakyat kelas 10 berinisial R dilaporkan kabur dari asrama pada Jumat malam (18/7), setelah dijemput sekelompok temannya yang memakai atribut khas komunitas punk di depan gerbang sekolah.
Peristiwa ini langsung menjadi perhatian masyarakat sekitar. Pihak sekolah pun bergerak cepat mencari keberadaan siswa tersebut yang diketahui memang berlatar sebagai belakang anak jalanan (punk). Setelah ditelusuri, R ternyata sudah kembali ke rumah orang tuanya di wilayah Rogojampi.
Ida Bagus Ardasasmita, Kepala Tata Usaha Sekolah Rakyat, membenarkan kabar bahwa ada siswa yang kabur tanpa izin tersebut. Karena tindakan itu, pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan R dari Sekolah Rakyat untuk dikembalikan ke orang tua dan dibina di rumah.
"Kami putuskan untuk mengembalikan ke orang tuanya agar dibina di rumah," jelas Ida Bagus, dikutip dari Radar Banyuwangi, pada Rabu (23/7).
Sementara itu, Chitra Arti Maharani, Kepala Sekolah SR Banyuwangi, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat ditujukan bagi siswa dari keluarga miskin, yang mendapatkan fasilitas pendidikan dan asrama secara gratis. Meski beberapa siswa berasal dari lingkungan jalanan, Chitra menyebut banyak dari mereka menyimpan potensi luar biasa.
Fakta menarik justru terungkap saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yaitu ada dua siswa ternyata merupakan penghafal Al-Qur’an.
“Kami sangat terkejut sekaligus bangga. Ada yang hafal 22 juz, satu lagi 5 juz. Itu kami ketahui saat kegiatan malam seperti mengaji,” kata Chitra.
Editor : Jauhar Yohanis