Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Ajari Siswa Smasa Ilmu Coaching
NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Menjadi orang sukses ternyata tidak hanya soal kepintaran dan kerja keras. Ada dua hal sederhana yang dinilai penting oleh Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk AKBP drg Wahyu Ari Prananto, M.A.R.S., yakni doa restu orang tua dan doa kepada Tuhan.
Pesan itu disampaikan Wahyu ketika menjadi narasumber dalam program Guru Hebat untuk Nganjuk Melesat di SMAN 1 Nganjuk, kemarin.
Di hadapan ratusan siswa kelas X, Wahyu tidak hanya berbicara soal motivasi. Dokter gigi tersebut juga mengajak siswa mengenal dan mempraktikkan ilmu coaching untuk membantu teman menemukan tujuan, mengenali hambatan, hingga menyusun langkah untuk mencapainya.
“Yang pertama adalah doa restu orang tua. Yang kedua adalah salat atau berdoa,” ujar Wahyu.
Doa Restu Orang Tua Jadi Bekal Utama
Menurut Wahyu, siswa yang memiliki cita-cita besar tetap membutuhkan dukungan dari keluarga, terutama orang tua.
Karena itu, ia mengingatkan siswa agar tidak lupa meminta doa dan restu sebelum mengejar cita-cita.
“Harus minta doa restu orang tua agar hidup kita ditoto Allah SWT,” katanya.
Bagi Wahyu, keberhasilan bukan hanya persoalan kemampuan seseorang dalam merencanakan masa depan. Hubungan dengan orang tua dan kedekatan spiritual juga menjadi bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan.
Pesan tersebut sekaligus mengajak siswa untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi tetap menjaga sikap dan hubungan dengan keluarga.
Siswa Smasa Diajak Jadi Coach untuk Temannya
Setelah menyampaikan motivasi, Wahyu masuk ke materi yang menjadi bagian utama dalam sesi tersebut, yakni coaching.
Ia mengajak siswa Smasa sebutan untuk SMAN 1 Nganjuk memahami bahwa seorang sahabat tidak hanya hadir ketika suasana sedang menyenangkan.
Sahabat juga bisa menjadi orang yang membantu temannya ketika menghadapi persoalan.
Caranya dengan mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh temannya, apa yang menjadi hambatan, kemudian membantu menemukan jalan keluar.
Yang tidak kalah penting, teman tersebut juga ikut memantau komitmen yang sudah dibuat.
“Karena teman maka saat menerapkan ilmu coaching tidak ada paksaan,” ujar Wahyu.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip coaching modern yang menempatkan orang yang dibimbing sebagai pihak yang menemukan sendiri tujuan dan langkahnya. Dalam praktik coaching, kemampuan mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan, membantu seseorang melihat pilihannya, serta membangun akuntabilitas menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Bukan Sekadar Mendengar, tetapi Mencari Solusi
Wahyu kemudian meminta siswa langsung mempraktikkan materi yang baru saja diberikan.
Siswa diminta berpasangan dan melakukan wawancara dengan temannya.
Pertanyaannya sederhana. Apa cita-cita yang ingin dicapai? Apa yang menjadi masalah? Mengapa masalah itu belum terselesaikan? Kemudian, langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?
Dari percakapan tersebut, siswa diminta membantu temannya menemukan solusi.
Setelah solusi disepakati, proses tidak berhenti di situ.
Teman yang menjadi coach bertugas mengingatkan kembali komitmen tersebut. Dengan begitu, keduanya tidak sekadar berbicara mengenai cita-cita, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk memastikan ada tindakan setelah percakapan selesai.
“Sahabat itu bertanggung jawab atas keberhasilan temannya. Jadi, nanti bisa sama-sama sukses,” kata Wahyu.
Dalam coaching, pola semacam ini penting karena tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan percakapan yang menarik. Coaching diarahkan agar seseorang mendapatkan kejelasan, menentukan tindakan, dan mempunyai akuntabilitas terhadap langkah yang dipilih.
Bisa Diterapkan Siswa hingga Pemimpin
Menurut Wahyu, ilmu coaching yang diperkenalkan kepada siswa tidak hanya berguna di lingkungan sekolah.
Metode tersebut bisa digunakan dalam berbagai hubungan.
Mulai dari sesama siswa, guru dengan siswa, orang tua dengan anak, hingga seorang pemimpin dengan anggota timnya.
Kuncinya adalah kemampuan mendengarkan dan memberikan ruang kepada orang lain untuk menyampaikan persoalannya.
International Coaching Federation juga menempatkan active listening sebagai salah satu kompetensi penting dalam coaching. Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran berbicara, tetapi berusaha memahami apa yang disampaikan sebelum memberikan respons atau pertanyaan berikutnya.
Bagi siswa, keterampilan seperti ini dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki lingkungan kuliah maupun dunia kerja.
Sahabat Bisa Ikut Menentukan Masa Depan
Ketua Panitia Guru Hebat untuk Nganjuk Melesat Rully Prasetyo mengatakan, program tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda kepada siswa.
Mereka tidak hanya mendapatkan materi dari guru di sekolah, tetapi juga berkesempatan mendengar langsung pengalaman dan pemikiran tokoh-tokoh yang dianggap berhasil di bidangnya.
Rully mengingatkan siswa agar memperhatikan lingkungan pergaulan.
“Jika ingin melihat masa depan Anda, lihatlah siapa circle Anda,” ujarnya.
Ia menggambarkan pengaruh lingkungan dengan perumpamaan sederhana.
Jika seseorang sering bergaul dengan penjual parfum, katanya, orang tersebut akan ikut terkena wanginya. Sebaliknya, jika terlalu sering berada di lingkungan pedagang ikan, bau amis yang akan melekat.
Pesan tersebut bukan semata-mata soal memilih teman yang pintar. Lebih jauh, siswa diharapkan berada di lingkungan yang mendorong mereka berkembang, belajar, dan berani memiliki target.
Pembelajaran bersama teman sebaya juga bukan konsep yang asing dalam dunia pendidikan. Sejumlah pendekatan buddy system dan peer learning menunjukkan bahwa hubungan antarsiswa dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan akademik sekaligus sosial.
Smasa Punya Target Besar
Rully juga mengapresiasi komitmen SMAN 1 Nganjuk di bawah kepemimpinan Kepala Smasa Sugiyono.
Menurutnya, berbagai capaian siswa, mulai dari lolos ke perguruan tinggi negeri favorit dan sekolah kedinasan, diterima di Akademi Angkatan Udara (AAU), hingga memperoleh beasiswa kuliah di Tiongkok, seharusnya menjadi pemacu semangat siswa lainnya.
“Jika ingin melihat masa depan Anda, lihatlah siapa circle Anda,” kembali ditekankan Rully.
Harapannya, pengalaman para siswa yang sudah berhasil dapat menjadi contoh bahwa target besar tetap bisa dicapai dengan persiapan dan kerja keras.
Kepala Smasa Sambut Program Guru Hebat
Kepala SMAN 1 Nganjuk Sugiyono menyambut baik pelaksanaan program Guru Hebat untuk Nganjuk Melesat.
Menurut dia, kehadiran tokoh secara langsung di sekolah memberikan pengalaman berbeda bagi siswa.
Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari buku atau materi pembelajaran, tetapi juga mendengar pengalaman dan sudut pandang orang yang telah lebih dulu menjalani dunia profesional.
“Siswa Smasa itu harus pintar dan memiliki wawasan serta pengalaman yang banyak. Sehingga, mereka bisa berguna dan bermanfaat setelah lulus dari sekolah,” ujar Sugiyono.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena pendidikan siswa tidak hanya berkaitan dengan nilai akademik. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menetapkan tujuan, mendengarkan orang lain, dan bertanggung jawab terhadap keputusan juga menjadi bekal penting.
Ratusan Siswa Antusias Ikuti Acara
Program Guru Hebat untuk Nganjuk Melesat di SMAN 1 Nganjuk berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.
Ratusan siswa kelas X mengikuti kegiatan dengan antusias.
Suasana semakin meriah karena panitia juga menyiapkan berbagai doorprize bagi peserta.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada pesan yang ingin ditanamkan kepada siswa: kesuksesan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Bisa dimulai dari hal sederhana: meminta doa orang tua, mendekatkan diri kepada Tuhan, memilih lingkungan pertemanan yang baik, mendengarkan orang lain, kemudian membantu teman menemukan jalan keluar dari persoalannya.
Dari sana, cita-cita yang semula hanya menjadi pembicaraan bisa mulai berubah menjadi sebuah rencana.
Dan rencana yang terus dijaga dengan komitmen, itulah yang pada akhirnya memiliki peluang lebih besar untuk menjadi kenyataan.
Editor : Miko