NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Sepinya penjualan hewan kurban tak hanya dirasakan pedagang kambing di Nganjuk. Namun, pedagang sapi di Pasar Hewan Kedondong juga merasakan. Bahkan, mereka menyebut Idul Adha tahun ini adalah yang paling sepi.
“Sampai hari ini (kemarin, Red) masih sepi pembeli padahal Idul Adha makin dekat,” keluh Santoso, 58, pedagang sapi di Pasar Hewan Kedondong kepada wartawan koran ini.
Menurut pedagang sapi di sana, Idul Adha tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Saat ini penjualan sapi di pasar relatif lesu. Hal ini terlihat dengan sedikitnya pengunjung di Pasar Hewan Kedondong. “Dua minggu ini, saya hanya jual seekor sapi. Padahal, biasanya lima ekor sapi,” ungkap Santoso.
Pedagang sapi asal Desa Semare, Kecamatan Berbek ini mengatakan, meski tahun lalu penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang tetapi penjualan sapi kurban masih tergolong ramai. Sedangkan, saat ini, pembeli justru sepi. Padahal, PMK tidak merajalela.
Untuk harga sapi, Santoso juga mengaku tidak mengalami perubahan. Seekor sapi simental dijual dengan harga Rp 20 juta-Rp 30 juta. “Entah kenapa kok sepi ya,”ujarnya heran.
Harapan Santoso dan pedagang sapi yang lain hanya di minggu depan. Mereka berharap, pembeli akan berdatangan ke pasar sapi terbesar di Nganjuk tersebut. Sehingga, sapi kurban yang dijual pedagang di sana bisa laku keras. “Mudah-mudahan minggu depan laris,” harapnya.
Untuk diketahui, keluhan pedagang sapi ini sama dengan pedagang kambing kurban. Para pedagang kambing kurban dadakan memilih tidak berjualan di tepi jalan. Karena khawatir kambing tidak laku. Padahal, biaya operasional setiap hari besar. Mereka menduga sepinya pembeli kambing kurban karena Idul Adha bertepatan dengan tahun ajaran baru. Sehingga, masyarakat memilih menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan sekolah putra-putrinya. “Banyak yang menolak saat saya tawari kambing kurban karena alasan uangnya untuk bayar sekolah dulu,” sambung Thukul Hariyanto, pedagang kambing kurban di Desa Babadan, Kecamatan Pace.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk