SAMIDI, 54, warga Desa Semare, Kecamatan Berbek tak menduga jika virus penyakit mulut dan kuku (PMK) akan kembali merajelala. Sebagai orang yang sering membeli sapi, tentu hal itu menjadi kegelisahan. Karena dia kini harus semakin cermat saat memilih sapi sebelum membeli. “Harus berhati-hati sekali kalau mau cari sapi,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Samidi menceritakan, mencari sapi yang benar-benar sehat itu susah-susah gampang. Kadang, sapi yang terlihat sehat pun dapat sakit saat sampai di rumah. Apalagi sapi yang sudah terlihat sakit saat di pasar.
Oleh sebab itu, dia harus berhati-hati mencari sapi. Bahkan saat hendak membeli sapi, banyak kriteria yang harus dipenuhi. Pertama tentu sapinya tidak boleh terlihat memiliki luka. Entah itu di mulut, hidung, hingga di bagian kuku.
Kedua, sapi tidak boleh terlihat lemas. Sapi harus aktif bergerak. Hingga mengeluarkan suara yang nyaring bunyinya. Jika kriteria-kriteria itu tidak bisa dipenuhi, maka Samidi lebih memilih untuk mencari sapi lainnya.
“Sekarang yang mumet tidak hanya penjual, tapi juga pembeli. Jadi serba salah kalau mau beli sapi,” tandasnya.
Pembeli sapi lainnya, Katiran, 60, asal Desa Cepoko, Kecamatan Berbek mengaku tak ingin membeli sapi untuk beberapa saat ini. Tentu penyebabnya bukan karena dia tidak memiliki uang. Melainkan karena dirinya takut sapi yang berada di pasar itu sudah terjangkit PMK.
Alih-alih membeli sapi, dia lebih memilih untuk nongkrong di Pasar Hewan Kedondong kamis kemarin (16/1). Bersama pembeli lainnya, dia memilih hanya untuk melihat-lihat. “Kalau beli sapinya bisa nanti-nanti, kalau sudah tidak ada lagi PMK,” ujarnya.
Hal ini membuat transaksi sapi di Pasar Hewan Kedondong menjadi sepi. “Sepi pembeli sekarang,” keluh Murtadi, 45, pedagang sapi asal Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun yang berjualan di Pasar Hewan Kedondong. (wib/tyo)
Editor : Redaksi Radar Nganjuk