NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Masyarakat Kabupaten Nganjuk diimbau untuk mulai bersiap menghadapi pergantian musim. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk merilis peringatan dini agar warga meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan lebih kering dari kondisi biasanya.
Kepala Bidang (Kabid) Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Nganjuk, Purwo Hadi Setyo Wicaksono, mengungkapkan bahwa perubahan cuaca ini dipicu oleh anomali iklim global.
"Faktor penyebab utama kemarau tahun ini terasa lebih ekstrem adalah karena adanya fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang yang terjadi pada 2026. Akibatnya sangat jelas, curah hujan akan jauh lebih sedikit dan cuaca harian akan terasa lebih panas terik," ujar pria yang akrab disapa Wicaksono tersebut kepada radarnganjuk.jawapos.com.
Kondisi tersebut, lanjut Wicaksono, secara otomatis akan meningkatkan status risiko kekeringan di berbagai wilayah, termasuk di Kota Angin.
Terkait peta waktunya, perkiraan awal musim kemarau sebenarnya sudah mulai masuk pada bulan April. Namun, untuk sebagian besar wilayah Jawa Timur, peralihan musim secara merata baru akan berlangsung pada bulan Mei.
"Untuk puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus. Walaupun demikian, masyarakat harus waspada karena sebagian besar wilayah diprediksi sudah mulai mengalami puncak kemarau sejak bulan Juli," paparnya merinci rilis BMKG.
BPBD Nganjuk menyoroti bahwa musim kemarau kering yang berlangsung terlalu lama akan membawa sejumlah dampak berantai.
Risiko bencana yang paling diwaspadai meliputi ancaman krisis air bersih di kantong-kantong desa rawan, kekeringan lahan pertanian yang dapat mengancam gagal panen, hingga lonjakan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat suhu yang terlampau panas dan kering.
Oleh karena itu, Wicaksono meminta seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait tidak meremehkan prediksi ini dan mulai melakukan mitigasi sejak dini.
Antisipasi harus dilakukan mulai sekarang. "Kami mengimbau para petani untuk segera menyesuaikan pola tanam pertanian, pilih tanaman yang tidak rakus air, " pungkas Wicaksono.
Selain itu, di juga melarang keras aktivitas pembakaran lahan atau sampah sembarangan karena sangat rawan memicu Karhutla. "Terakhir, mari bersama-sama berhemat dan menjaga kelestarian sumber-sumber air di lingkungan masing-masing," pungkas Wicaksono.
Editor : rekian