Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Masjid Kuno Pakuncen Kerap Didatangi Caleg Jelang Masa Pemilu Legislatif.

Endro Purwito • Sabtu, 19 April 2025 | 04:23 WIB
Masjid Kuno Pakuncen Kerap Didatangi Caleg Jelang Masa Pemilu Legislatif.
Masjid Kuno Pakuncen Kerap Didatangi Caleg Jelang Masa Pemilu Legislatif.

JP Radar Nganjuk- Menjadi desa terkecil di Kabupaten Nganjuk, Desa Pakuncen, Kecamatan Patianrowo memiliki nuansa religius. Pasalnya, di sini terdapat peninggalan bersejarah yang berharga. Yakni sebuah masjid kuno dan bersejarah. Masyarakat menyebutnya Masjid Pakuncen. Rumah ibadah di utara desa tersebut memiliki desain interior yang unik menyerupai kerajaan.

    Hampir seluruh struktur bangunan masjid dibuat menggunakan bata merah dan kayu. Hal ini menciptakan suasana seperti Kerajaan Majapahit dan Mataram pada zaman dahulu.     

   Tidak hanya bangunannya, mulai pintu masuk dan jalan menuju masjid hingga halamannya pun bernuansa tradisional. Bahkan di sisi utara masjid terdapat kolam kuno.

   Dibangunnya Masjid Pakuncen menyerupai kerajaan ini untuk membangkitkan semangat masyarakat dalam menjalankan ajaran Islam. Itu seperti saat dipimpin pendiri masjid dahulu.

Masjid Pakuncen didirikan oleh tokoh penyebar agama Islam setempat yang bernama Mbah Nur Jalipah. Proses pembangunan masjid mulai sekitar abad 17 atau pada 1651 dan selesai tahun 1792.

   Setelah meninggal, jenazah Mbah Nu Jalipah dimakamkan di sana. Karena itu di dalam masjid terdapat situs makam pendirinya yakni Mbah Nur Jalipah. Hingga kini makam maupun masjid peninggalan Ki Nur Jalipah masih terus dirawat dan dilestarikan masyarakat Nganjuk.

   Yang menarik, pada masa coblosan, pesta demokrasi atau pemilihan umum (pemilu) legislatif, biasanya suasana Desa Pakuncen lebih ramai dikunjungi orang. Tidak sedikit kandidat atau calon anggota legislatif (caleg) berziarah ke sana. Terutama ke area pusara yang disebut sebagai Makam Temenggung Kopek. Sebagian ada yang meyakini ziarah di sana dapat mengangkat derajat. Sebagian lainnya mengatakan menjadi merasa lebih percaya diri. Mitosnya di sana memang diyakini memiliki aura kewibawaan atau kederajatan.

   Semula tiang dan atap masjid kuno tersebut terbuat dari kayu. Namun di masa orde baru (orba) atas prakarsa Menteri Penerangan Harmoko, tempat ibadah itu direnovasi. Atapnya diganti genting ditambah serambi. Masjid kuno tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama Baitur Rohman.

   Di belakang masjid terdapat kompleks makam. Di sebelah utara terdapat bangunan bercungkup yang tertutup rapat yang di dalamnya terdapat 22 makam. Di antaranya terdapat 4 makam yang ditutup kelambu putih.      

   Berdasarkan catatan data di sana tertulis makam RA. Tumenggung Purwodiningrat, isteri Tumenggung Posono I. Lalu, makam RA. Tumenggung Sosrodiningrat, isteri Tumenggung Posono II. Kemudian, R. Soerjati (Kusumaningrat), dan RA. Kusiyah (Karto- diningrat).

    Di luar cungkup terdapat makam para bangsawan tinggi lainnya, antara lain RT. Koesoemaningrat, mantan Bupati Ngawi, R. Mangunredjo, Patih Kuto Lawas dan Notosari Patih Magetan. Di sebelah barat cungkup utama terdapat makam Ki Nur Jalipah. Sedangkan di luar kompleks cungkup terdapat ratusan makam penduduk desa Pakuncen dan sekitarnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#berita nganjuk hari ini #masjid kuno #wisata religi #patianrowo