NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kadipaten Pace di Kecamatan Pace menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Kabupaten Nganjuk.
Berawal sejak abad ke-17, kadipaten ini merupakan wilayah yang pernah dipimpin oleh tokoh legendaris, Tumenggung Wirosroyo, yang dipercaya sebagai pendiri Kadipaten Pace.
Pada masa Kerajaan Mataram Islam, wilayah Pace menjadi bagian dari kekuasaan Sultan Agung.
Tumenggung Wirosroyo yang setia kepada Sultan Agung, memilih menetap dan membuka wilayah baru di Pace Kulon setelah peristiwa Perang Mataram.
Hal ini menandai awal berdirinya Kadipaten Pace yang memiliki peran strategis dalam pemerintahan dan sosial budaya masyarakat.
Seiring waktu, Kadipaten Pace tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan tradisional, tetapi juga sebagai pusat pelestarian budaya.
Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Sedekah Bumi "Suroan" di Desa Pacewetan.
Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi dan penghormatan kepada leluhur, khususnya Tumenggung Wirosroyo.
Peninggalan bersejarah yang bisa ditemukan adalah Makam Sentono Kacek di Desa Pace Kulon.
Makam ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Tumenggung Wirosroyo dan menjadi bukti keberadaan Kadipaten Pace dalam sejarah Nganjuk.
Dengan keberadaan tradisi dan situs sejarah tersebut, Kadipaten Pace tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan kebudayaan Kabupaten Nganjuk.
Melestarikan sejarah ini penting agar generasi muda dapat mengenal akar budaya dan sejarah daerahnya.
Editor : Jauhar Yohanis