Mengenal Perajin Batik Khas Nganjuk Ristiani
Kabupaten Nganjuk memiliki seorang perajin batik khas Nganjuk. Dia adalah Ristiani. Uniknya, perempuan asal Kecamatan Berbek itu tidak pernah menduga jika dirinya akan terjun ke dunia batik. Karena di awal karir, perempuan yang kini usianya 40 tahun itu adalah seorang guru honorer.
Pagi itu (3/7) suasana di salah satu rumah di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek tampak sibuk. Total ada empat perempuan yang sedang mengerjakan suatu pekerjaan. Antara satu perempuan dengan yang lainnya memiliki pekerjaan yang berbeda.
Seperti perempuan yang sedang mengenakan kerudung berwarna coklat. Saat itu perempuan paruh baya tersebut sedang memberi warna pada sebuah kain dengan luas 2 meter x 1 meter. Sedangkan perempuan lain, yang berkerudung abu-abu, sedang memanaskan lilin di sebuah panci ukuran besar.
Rumah tersebut adalah tempat pembuatan batik. Adalah Ristiani pemiliknya. Perempuan yang kini berusia 40 tahun itu mengaku sudah memulai usaha batik bersama sang suami sejak 2014. “Dulu saya guru honorer di sebuah SMP. Tapi akhirnya keluar dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Ristiani menceritakan, dulu dirinya adalah seorang guru Bahasa Inggris. Memulai karirnya sebagai guru honorer di tahun 2008. Setelah empat tahun menjadi guru honorer, Ristiani mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan membuat batik. Kala itu pelatihan dilakukan oleh dinas yang namanya berganti menjadi Dinas Koperasi dan Usah Mikro (Dinkop UM) Nganjuk.
“Saya dulu kagum dengan perajin batik. Kok bisa ada orang telaten banget membuat batik. Akhirnya saat itu saya jatuh cinta ke batik,” tambah ibu tiga anak itu.
Sejak saat itu, Ristiani jatuh cinta dengan dunia batik. Beberapa pelatihan terus dia ikuti. Hingga satu tahun kemudian dia mulai ahli. Lalu pada tahun berikutnya, 2014, Ristiani memutuskan untuk membuka usaha batik bersama sang suami.
Satu tahun pertama bukan hal yang mudah. Terlebih, Ristiani juga harus menjadi guru honorer. Hingga akhirnya dia memutuskan resign dari guru honorer.
Pilihan itu dibuat pada tahun 2015. “Dulu sempat ditolak oleh orang tua. Namun suami tetap menguatkan saya. Hingga akhirnya saya yakin untuk keluar dari guru honorer,” imbuhnya.
Ternyata pilihan yang dilakukannya benar. Setelah keluar dari menjadi guru honorer, karirnya di dunia batik terus moncer.
Hingga karyanya banyak dikenal oleh masyarakat luas. Tidak hanya dari Kabupaten Nganjuk, melainkan hingga ke luar daerah. “Kalau mau sukses, kita harus berani mengambil keputusan yang berat,” tandasnya. (wib/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis