JP RADAR NGANJUK - Nama para sastrawan lama seperti Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan Chairil Anwar sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat sastra, terutama sastra klasik. Mereka secara berani menyuarakan penindasan dan ketidakadilan.
Karya-karyanya yang kritis terhadap kekuasaan mendorong kesadaran akan pentingnya keadilan, demokrasi, dan kebebasan. Apakah semangat melawan itu masih hadir dalam karya-karya sastra kontemporer?
Tema-tema karya sastra saat ini tampaknya mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Karya sastra kontemporer banyak berangkat dari media sosial seperti Instagram, Wattpad, X, dan aplikasi lain yang memungkinkan semua orang bisa menulis. Hal ini menimbulkan budaya baru berupa gejolak tema yang masif dan mirip.
Para penikmat buku cenderung menyukai karya-karya yang lebih personal dan menyentuh. Tidak dapat dipungkiri para penulis berusaha mengangkat tema yang serupa. Misalnya, tema tentang percintaan, kesehatan mental, kesepian, dan polemik-polemik lain secara lebih personal.
Apakah hal tersebut merupakan hal yang salah? Tentu tidak. Para penulis saat ini masih memiliki semangat melawan namun polanya telah bergeser. Mereka melawan dalam sunyi. Bukan lagi bertujuan untuk menggulingkan rezim, tapi bertujuan untuk mencapai ketentraman batin.
Hari ini masih ditemui karya-karya sastra yang menyuarakan kritik terhadap politik dan kekuasaan, tetapi tidak sebanyak dahulu. Perubahan zaman banyak menggeser dan merubah pola pikir masyarakat yang awalnya sangat demokratis menjadi lebih personal. Eka Kurniawan, Ayu Utami, dan Seno Gumira Ajidarma merupakan penulis yang masih aktif mengangkat berbagai isu ketidakadilan sosial, represi politik, dan dampak pembangunan terhadap masyarakat.
Apakah sastra hari ini masih punya semangat melawan? Jawabannya iya, namun dengan cara yang berbeda. Apabila dahulu sastrawan menulis untuk bangsa, hari ini sastrawan menulis untuk dirinya sendiri dan itu tidak salah. Para sastrawan hari ini turut memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan sudut pandang mereka sendiri.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis