Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sastra Perlawanan: Dari Chairil Anwar hingga Eka Kurniawan, Suara yang Tak Pernah Padam

Internship Radar Kediri • Rabu, 13 Agustus 2025 | 23:00 WIB
Sastra Perlawanan
Sastra Perlawanan

JP RADAR NGANJUK-Sejak dahulu, sastra tak hanya menjadi ruang ekspresi estetis, tetapi juga wadah perlawanan terhadap ketidakadilan. Di Indonesia, banyak karya lahir dari kegelisahan sosial-politik, menentang penindasan, dan menyuarakan aspirasi rakyat. Fenomena ini dikenal sebagai sastra perlawanan.

Pada masa kolonial Belanda, semangat perlawanan banyak tercermin dalam puisi-puisi penyair Angkatan ’45. Chairil Anwar, misalnya, melalui puisinya Diponegoro (1943), menghidupkan kembali sosok pahlawan Jawa sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah. Dengan gaya bahasa lugas dan penuh semangat, Chairil menyuarakan tekad untuk tidak tunduk pada penindasan.

Baca Juga: Sinopsis Film Pamali: Tumbal, Daftar Pemain, dan Jadwal Tayang di Bioskop 2025

Memasuki era Orde Baru, situasi politik yang menekan melahirkan karya-karya yang kaya simbolisme dan kiasan. W.S. Rendra dikenal sebagai “Burung Merak” yang kerap menyuarakan kritik sosial-politik.

Puisinya Sajak Sebatang Lisong (1977) menjadi salah satu contoh paling terkenal, menyoroti kesenjangan sosial, kemiskinan, dan ketidakadilan yang diabaikan negara. Rendra menggunakan citraan sederhana tetapi menghentak, membuat puisinya mudah diingat dan dibicarakan.

Baca Juga: Social Satiation: Kenapa Tubuh Bisa ‘Kenyang Sosial’?

Di akhir 1990-an, menjelang dan setelah Reformasi, karya sastra mulai lebih terbuka dalam mengungkap peristiwa politik secara gamblang. Pramoedya Ananta Toer, melalui tetralogi Buru—yang dimulai dengan novel Bumi Manusia (1980)—menggambarkan perlawanan terhadap penindasan kolonial sekaligus kritik terhadap sistem sosial yang membungkam kebebasan. Meskipun ditulis dalam masa tahanan, karya-karya ini beredar luas dan menjadi bacaan penting bagi gerakan intelektual.

Baca Juga: Jeongyeon TWICE Debut Film! Perankan Perawat Militer di New Soldier: The Movie

Memasuki era kontemporer, sastra perlawanan hadir dalam bentuk yang lebih beragam. Eka Kurniawan lewat novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) dan Cantik Itu Luka (2002) memadukan realisme magis dengan kritik sosial-politik, membongkar kekerasan, ketidakadilan, dan trauma sejarah. Karyanya menunjukkan bahwa perlawanan dalam sastra tidak selalu hadir dalam bentuk slogan atau seruan langsung, tetapi juga lewat lapisan cerita dan simbol.

Baik melalui puisi, cerpen, maupun novel, esensi sastra perlawanan tetap sama: menantang status quo dan membela suara yang kerap dibungkam. Selama masih ada ketidakadilan, sastra akan selalu menemukan cara untuk menjadi saksi sekaligus alat perlawanan.

Baca Juga: Kenalan dengan Kim Da-mi, Aktris Mempesona yang Siap Bikin Nostalgia Lewat A Hundred Memories

 

Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#Perlawanan #sajak #puisi #novel #chairil anwar #Politiik #eka kurniawan #w.s. rendra #Cantik itu Luka #pramoedya ananta toer #sastra #diponegoro #bumi manusia #politik #cerpen