JP RADAR NGANJUK - Sastra Indonesia selama ini lebih sering dibicarakan dalam konteks realisme sosial, romantisme, atau modernisme. Namun, ada satu aliran yang jarang disorot padahal menyimpan kekayaan imajinasi dan kritik yang khas Namanya surealisme.
Aliran ini penting diulas karena ia menawarkan cara pandang baru terhadap kenyataa bukan sekadar merekam realitas, melainkan membongkar lapisan bawah sadar yang sering tersembunyi di balik rutinitas. Di tengah arus sastra yang kerap diarahkan untuk "realistis", surealisme justru menantang pembaca untuk mempertanyakan realitas itu sendiri.
Surealisme lahir dari gagasan Sigmund Freud tentang alam bawah sadar. Dalam sastra, aliran ini berusaha menghadirkan dunia mimpi, absurditas, dan irasionalitas ke dalam teks. Namun, jangan disalahartikan!
Surealisme bukan sekadar menghadirkan hal-hal aneh atau fantasi. Ia bekerja dengan logika mimpi. fragmen yang tak selalu masuk akal, tapi menyimpan kebenaran batin yang lebih dalam. Dalam karya sastra, surealisme memungkinkan penulis menyingkap trauma, kegelisahan, dan kritik sosial secara simbolis.
Secara global, surealisme berkembang pada awal abad ke-20, dipelopori oleh André Breton lewat Manifesto of Surrealism (1924). Aliran ini menolak dominasi logika rasional yang kaku, lalu mengedepankan kebebasan imajinasi.
Walau tidak sebanyak karya realis, ada sejumlah novel dan cerpen Indonesia yang memanfaatkan pendekatan surealis di antaranya Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma, Karya-karya Afrizal Malna, Danarto (Godlob, Berhala, Adam Ma’rifat).
Surealisme memberi ruang bagi sastra Indonesia untuk keluar dari kungkungan realisme yang dominan. Ia memperluas batas imajinasi, menghadirkan kritik sosial lewat simbol, dan membuka ruang bagi pembaca untuk menafsirkan dunia dengan cara yang lebih personal.
Di era ketika sastra kerap diarahkan untuk “bermanfaat” secara praktis, surealisme mengingatkan kita bahwa sastra juga berhak untuk liar, aneh, bahkan tidak masuk akal.
Surealisme perlu dilestarikan bukan hanya sebagai aliran sastra, tapi sebagai sikap kreatif. Keberanian untuk merombak cara pandang, mengganggu kenyamanan logika, dan menghadirkan dunia lain yang menyimpan kebenaran terselubung.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis