Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Hermeneutik Semiotika dalam Pemaknaan Sastra

Internship Radar Kediri • Selasa, 2 September 2025 | 17:35 WIB
Ilustrasi Hermeneutika Semiotika
Ilustrasi Hermeneutika Semiotika

JP RADAR NGANJUK-Karya sastra merupakan sistem tanda yang sarat makna. Ia tidak hanya mengandalkan arti harfiah dari kata-kata, melainkan juga menghadirkan lapisan simbol, metafora, dan kiasan.

Untuk mengungkap lapisan makna tersebut, semiotika menawarkan berbagai pendekatan. Salah satu yang penting adalah hermeneutik, yakni metode penafsiran yang menekankan hubungan antara teks dengan realitas kehidupan.

Menurut Riffaterre (1978), karya sastra sering kali menampilkan penyimpangan makna dalam bentuk ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense.

Hal ini membuat pembacaan literal tidak memadai. Dengan hermeneutik, pembaca diarahkan untuk menangkap makna tersembunyi melalui simbol dan kiasan yang melekat pada teks.

Baca Juga: Mengulas Surealisme dalam Karya Sastra Indonesia

Sementara itu, Teeuw (1983) menegaskan bahwa sebuah teks sastra merupakan respons terhadap teks lain atau realitas sosial di sekitarnya.

Artinya, karya sastra tidak pernah berdiri sendiri, melainkan hadir dalam percakapan yang lebih luas. Hermeneutik membantu membuka percakapan itu dengan membaca teks sebagai representasi pengalaman kolektif.

Salah satu contoh konkret pemaknaan hermeneutik adalah gambaran tentang kamar sempit berukuran 3x4 meter yang dihuni oleh tujuh orang.

Secara literal, teks tersebut hanya melukiskan kondisi fisik ruang yang padat. Namun, melalui pembacaan hermeneutik, kamar itu ditafsirkan sebagai simbol kemiskinan keluarga yang penuh keterhimpitan.

Baca Juga: Mengulas Sisi Traumatis dalam Karya Sastra Indonesia

Lebih jauh lagi, kamar tersebut dipahami bukan hanya sebagai cerminan penderitaan individu, melainkan juga alegori penderitaan bangsa Indonesia.

Ia menjadi lambang kehidupan sosial yang serba terbatas, penuh beban, dan sarat penderitaan. Dengan demikian, karya sastra berfungsi sebagai medium kritik sosial yang menyuarakan kondisi kolektif masyarakat.

Hermeneutik semiotika memperlihatkan bahwa teks sastra selalu menyimpan makna yang melampaui arti literal kata-kata. Dengan menafsirkan simbol dan kiasan, pembaca mampu melihat hubungan antara teks dan realitas sosial yang lebih luas.

Seperti ditegaskan Riffaterre (1978) dan Teeuw (1983), sastra tidak hanya sekadar ekspresi personal, tetapi juga representasi kehidupan bersama yang sarat nilai dan kritik.

Baca Juga: Apakah Sastra Lisan Masih Relevan untuk Generasi Z?

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#hermeneutika #metafora #sastra #simbolisme #semiotika