Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Personologi Henry Murray untuk Kajian Sastra: Cara Baru Memahami Tokoh

Internship Radar Kediri • Kamis, 4 September 2025 | 18:22 WIB

Henry Alexander Murray
Henry Alexander Murray

JP RADAR NGANJUK-Dalam kajian sastra, pendekatan psikologi banyak digunakan untuk memahami kedalaman karakter. Tokoh dalam karya sastra sering kali digambarkan bukan sekadar pelaku cerita, tetapi juga sebagai pribadi dengan emosi, motivasi, dan konflik batin yang menyerupai manusia nyata.

Di sinilah teori psikologi menjadi penting, karena bisa menjelaskan mengapa tokoh tertentu bersikap keras, penuh ambisi, atau sebaliknya terlihat rapuh dan penuh kasih. Salah satu teori yang relevan adalah personologi dari Henry Murray, yang menekankan bahwa perilaku manusia tidak lahir secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh dorongan dari dalam diri sekaligus tekanan dari luar. Teori ini membuat analisis tokoh menjadi lebih hidup, karena kita bisa masuk ke dunia batin mereka, bukan hanya melihat tindakannya dari luar.

Henry Murray dalam karyanya Explorations in Personality (1938) memperkenalkan kerangka yang membagi kepribadian ke dalam tiga unsur penting: needs, press, dan thema. Needs adalah kebutuhan internal individu, seperti kebutuhan akan cinta, pengakuan, atau pencapaian, yang mendorong seseorang untuk bertindak.

Baca Juga: Hermeneutik Semiotika dalam Pemaknaan Sastra

Press adalah segala bentuk tekanan eksternal, baik kondisi nyata seperti kemiskinan dan diskriminasi (alpha press), maupun persepsi subjektif yang dimaknai seseorang dari lingkungannya (beta press). Interaksi antara needs dan press kemudian melahirkan thema, yaitu pola perilaku khas yang berulang dalam kehidupan individu.

Dalam konteks sastra, teori ini membantu pembaca memahami tokoh secara lebih menyeluruh: bukan hanya apa yang mereka lakukan, tetapi juga bagaimana mereka menafsirkan pengalaman hidup dan dorongan batin yang membentuk keputusan mereka.

Contohnya bisa dilihat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Tokoh Kakek digambarkan sebagai orang saleh yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri beribadah di surau. Dari sudut pandang personologi, Kakek memiliki need for affiliation yang kuat—keinginan untuk dekat dengan Tuhan, memperoleh kasih sayang-Nya, dan merasa tenang melalui ibadah.

Namun, press dari lingkungan masyarakat berbeda: Kakek dianggap tidak berkontribusi secara sosial dan gagal memenuhi alpha press berupa tuntutan nyata untuk bekerja dan bermanfaat bagi sesama. Bahkan, ketika ia bermimpi diadili malaikat, Kakek menyadari adanya beta press—interpretasi subjektif bahwa ibadahnya semata tidak cukup, karena ia melupakan dimensi sosial.

Baca Juga: Menelusuri Simbol dan Imaji Cinta dalam Lagu Juwita Malam Karya Ismail Marzuki

Konflik antara kebutuhan internal (mencari kedekatan spiritual) dengan tekanan eksternal (tuntutan peran sosial) melahirkan thema tragis: Kakek memilih bunuh diri karena merasa tidak mampu lagi berdamai dengan pertentangan tersebut.

Analisis ini menunjukkan bahwa dengan teori personologi Murray, tokoh Kakek bukan hanya terlihat sebagai orang tua yang rajin beribadah, tetapi juga sebagai individu dengan dilema psikologis yang kompleks.

Ia berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri, namun tidak mampu menjawab tekanan sosial yang ada. Dengan demikian, karya sastra seperti Robohnya Surau Kami tidak hanya menjadi kritik sosial, tetapi juga cermin pergulatan batin manusia yang universal: antara kebutuhan pribadi dengan tuntutan masyarakat.

Baca Juga: Puisi Tipografi: Membaca dengan Mata, Merasakan dengan hati

 

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#Tokoh #psikologi #Robohnya Surau Kami #karakter #sastra #teori sastra