Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mahasiswa Jerman Main Gamelan, Surabaya Hidupkan Smart City: Kolaborasi Bikin Merinding

Internship Radar Kediri • Rabu, 10 September 2025 | 22:40 WIB
Institusi Jerman di Surabaya dukung pertukaran budaya dan kolaborasi seni.
Institusi Jerman di Surabaya dukung pertukaran budaya dan kolaborasi seni.

JP RADAR NGANJUK- Ruang pameran Museum De Javasche Bank Surabaya mendadak ramai oleh langkah pengunjung antusias. Mereka tengah terhanyut dalam pameran bertajuk “Universum. Mensch. Intelligenz.”, kolaborasi edukatif antara Goethe-Institut Surabaya dan Max Planck Society. Tema-tema besar seperti alam semesta, sejarah manusia, otak, antroposen, hingga kecerdasan buatan dipaparkan lewat visual interaktif dan audio yang memikat.

Beberapa hari berselang, nuansa berbeda hadir di Gedung Kesenian Cak Durasim. Lampu-lampu temaram, layar putih besar, dan film klasik Jerman karya Rainer Werner Fassbinder berhasil memikat ratusan penonton yang duduk khidmat. Sebagian di antaranya adalah mahasiswa yang baru saja menamatkan kursus bahasa Jerman.

Hubungan Indonesia–Jerman, khususnya Surabaya, memang telah lama terjalin dalam ranah ekonomi dan pendidikan. Namun, beberapa tahun terakhir, kolaborasi itu berkembang jauh hingga merasuk ke pertukaran nilai budaya yang mengakar di masyarakat kedua belah pihak.

Lebih dari Sekadar Teknologi

Selama ini, citra Jerman di mata warga Surabaya identik dengan disiplin, ketepatan, dan kemajuan teknologi. Nama besar Mercedes-Benz atau Siemens sudah lama menjadi bagian dari lanskap industri di Surabaya dan Gresik.

Namun, Dr. Klaus Müller, Konsul Jenderal Jerman di Surabaya, menekankan bahwa kerja sama itu jauh lebih luas. “Ya, teknologi kami memang terkenal. Tapi kami juga punya warisan budaya yang kaya: sastra, filsafat, musik, dan seni. Kami senang melihat minat warga Surabaya yang tinggi, tidak hanya belajar bahasa Jerman untuk kerja, tetapi juga memahami puisi Goethe atau drama Brecht,” ujarnya.

Antusiasme itu tercermin dari ramainya berbagai acara. Mulai pameran foto “Jerman dari Timur ke Barat” di Ciputra World, pemutaran film klasik Jerman di gedung kesenian, hingga lokakarya membuat pretzel dan sausage di kampus-kampus ternama.

Surabaya Membalas dengan Kehangatan Lokal

Tentu, pertukaran budaya bukan jalan satu arah. Jika Jerman menghadirkan teknologi dan seni klasik, Surabaya membalas dengan kearifan lokal yang hangat.

Program pertukaran pelajar antara Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan beberapa Hochschule di Jerman menjadi jembatan efektif. Mahasiswa Jerman bukan hanya belajar teknik atau matematika, tapi juga menyelami budaya Jawa.

Mereka menabuh gamelan di Sanggar Semampir, membatik di Kampung Batik Genteng, bahkan mementaskan wayang kulit dengan cerita adaptasi Die Bremer Stadtmusikanten (Musikawan Bremen).

Anna Schmidt, mahasiswa asal Berlin, mengaku terpesona. “Orang-orang di sini sangat terbuka dan ramah. Saya belajar bahwa kekuatan komunitas dan gotong royong di Surabaya luar biasa. Sangat berbeda dengan individualitas di Jerman, tapi sama-sama indah,” tuturnya dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Menatap Masa Depan: Seni Bertemu Smart City

Kerja sama Surabaya–Jerman tak berhenti di ranah seni. Pemerintah Kota Surabaya dan pemerintah negara bagian Nordrhein-Westfalen kini merancang proyek “Smart City Culture”. Proyek ini memadukan teknologi Jerman dengan kearifan lokal Surabaya dalam pengelolaan situs budaya dan sejarah.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, optimistis. “Kita punya banyak heritage yang harus dilestarikan. Dengan teknologi Jerman, seperti augmented reality, kita bisa menghidupkan kembali sejarah Gedung Cerutu atau Jembatan Merah agar lebih menarik bagi generasi muda. Ini perpaduan yang sempurna,” katanya.

Kolaborasi ini membuktikan bahwa hubungan Surabaya–Jerman telah melampaui diplomasi formal. Keduanya saling menghormati, belajar, dan bersama-sama menciptakan harmoni indah untuk masa depan. Seperti orkestra: ketika dentuman gamelan berpadu dengan alunan biola, tercipta simfoni yang memukau dunia.

 

Dita Amelia Ningsih

Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabay

Editor : Jauhar Yohanis
#festival #jerman aman untuk liburan #karnaval #pentas #budaya