JP RADAR NGANJUK Sebuah monumen unik dan penuh makna berdiri dengan tenang di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya. Monumen itu bukanlah tugu pahlawan biasa, melainkan sebuah patung ayam jago (ayam jantan) yang gagah. Bagi warga yang berlalu lalang, patung ini mungkin sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, di balik kesederhanaannya, monumen tersebut menyimpan cerita sejarah yang mengakar kuat pada perjalanan heroik Kota Surabaya.
Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kota metropolitan, Surabaya tetap setia menjaga setiap fragmen sejarahnya. Patung Ayam Jago di Lidah Wetan ini tidak hanya sekadar penghias jalan, melainkan juga pengingat fisik akan legenda Raden Sawunggaling, seorang tokoh yang dikisahkan memiliki kesaktian dan peran penting dalam sejarah Surabaya.
Berdasarkan cerita rakyat yang turun-temurun, ayam jago tersebut bukanlah hewan biasa. Ia adalah hewan kesayangan Raden Sawunggaling yang setia menemani dalam setiap petualangan dan perjuangannya melintasi wilayah yang kini menjadi Kota Surabaya. Keberadaan patung ini menjadi simbol pengabdian, keberanian, dan keteguhan, merefleksikan karakter sang maestro sendiri.
Baca Juga: Mahasiswa Jerman Main Gamelan, Surabaya Hidupkan Smart City: Kolaborasi Bikin Merinding
"Monumen ini adalah bentuk penghormatan dan upaya melestarikan ingatan kolektif warga akan sejarah lokal," ujar Budi Santoso, seorang tokoh masyarakat setempat yang juga aktif menggalakkan wisata sejarah di Lakarsantri. "Bagi generasi tua, cerita Raden Sawunggaling dan ayam jagonya adalah sesuatu yang hidup. Melalui monumen ini, kami berharap generasi muda tidak kehilangan akar sejarah mereka."
Keberadaan patung ini sering kali mengundang rasa ingin tahu dari pengendara yang melintas untuk pertama kalinya. Lokasinya yang strategis membuatnya mudah diliat dan menjadi semacam landmark bagi Kelurahan Lidah Wetan.
Selain sebagai penanda sejarah, area di sekitar Patung Ayam Jago juga berfungsi sebagai ruang publik sederhana bagi warga. Pada sore hari, sering terlihat warga berhenti sebentar atau anak-anak bermain di sekitarnya.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Leluhur: Kekayaan Budaya NTT dari Tenun Ikat hingga Tarian Sakral
Pemerintah setempat berharap monumen ini dapat terus dipelihara dan nilainya dapat ditransmisikan kepada generasi penerus. "Ini adalah asset budaya non-benda yang diwujudkan dalam sebuah karya seni. Ke depannya, tidak menutup kemungkinan kami akan memasukkan titik ini sebagai bagian dari trail wisata sejarah di Surabaya Barat," tambah seorang perwakilan dari Kelurahan Lidah Wetan.
Patung Ayam Jago Lidah Wetan mungkin tidak sebesar atau semegah Tugu Pahlawan, namun ia memainkan perannya sendiri dengan baik: menjadi penjaga ingatan yang bisu namun berbisik tentang sebuah cerita dari masa lalu yang patut untuk tidak dilupakan.
Baca Juga: Jangan Terlewat! Ini Jadwal Siraman di Air Terjun Sedudo Nganjuk
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi