JP RADAR NGANJUK-Dalam dunia kajian sastra, dongeng dan cerita rakyat sering dianggap sederhana. Namun, Vladimir Propp, seorang ahli folklor Rusia, menunjukkan bahwa di balik cerita yang tampak sederhana, ada pola struktur yang teratur.
Melalui bukunya Morphology of the Folktale (1928, terjemahan 1968), Propp memperkenalkan 31 fungsi naratif yang kerap muncul berulang dalam berbagai dongeng.
Fungsi Propp bekerja seperti “alat bantu” untuk menganalisis cerita. Setiap fungsi menggambarkan tahapan peristiwa.
Fungsi-fungsi tersebut muncul berurutan, meskipun tidak semua fungsi harus ada dalam satu cerita. Berikut penjelasan lengkapnya dengan contoh dari cerita rakyat Nusantara.
Baca Juga: Hermeneutik Semiotika dalam Pemaknaan Sastra
31 Fungsi Propp
1. Absentation (absen): Salah satu anggota keluarga meninggalkan rumah. Contoh: Orang tua Timun Mas pergi bekerja, meninggalkan anaknya di rumah.
2. Interdiction (larangan): Tokoh diberi larangan atau peringatan. Contoh: Ibu Timun Mas melarang anaknya keluar rumah sebelum cukup umur.
3. Violation (pelanggaran): Larangan itu dilanggar. Contoh: Malin Kundang menolak mengakui ibunya.
4. Reconnaissance (pengintaian): Penjahat mencari informasi. Contoh: Raksasa mengintai waktu untuk mengambil Timun Mas.
5. Delivery (penyampaian): Penjahat memperoleh informasi tentang korban. Contoh: Raksasa tahu Timun Mas sudah dewasa.
6. Trickery (tipu daya): Penjahat berusaha menipu korban. Contoh: Pan Balang Tamak (Bali) menipu orang-orang desa dengan kelicikan.
7. Complicity (persetujuan): Korban tanpa sadar membantu penjahat. Contoh: Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang, tanpa tahu ia anaknya sendiri.
8. Villainy (kejahatan): Penjahat menyebabkan kerugian atau penderitaan. Contoh: Raksasa ingin memakan Timun Mas.
9. Mediation (perantaraan): Kabar kejahatan sampai pada pahlawan. Contoh: Ibu Timun Mas tahu ancaman raksasa semakin dekat.
10. Counteraction (reaksi): Pahlawan memutuskan untuk bertindak. Contoh: Timun Mas setuju kabur demi keselamatan.
11. Departure (keberangkatan): Pahlawan meninggalkan rumah. Contoh: Timun Mas berangkat membawa bekal pemberian ibunya.
12. First function of donor (ujian awal): Pahlawan diuji oleh calon penolong. Contoh: Timun Mas diuji keberaniannya menghadapi raksasa.
13. Hero’s reaction (reaksi pahlawan): Respons pahlawan terhadap ujian. Contoh: Timun Mas berani melawan dengan benda-benda ajaib.
14. Receipt of magical agent (penerimaan benda ajaib): Pahlawan mendapat bantuan. Contoh: Ibu Timun Mas memberi biji timun, jarum, garam, dan terasi.
15. Guidance (petunjuk): Pahlawan dibimbing menuju tujuan. Contoh: Dalam La Galigo, tokoh mendapat arahan dari dewa.
Baca Juga: Apakah Sastra Lisan Masih Relevan untuk Generasi Z?
16. Struggle (pertarungan): Pahlawan melawan penjahat. Contoh: Timun Mas melawan raksasa di hutan.
17. Branding (penandaan): Pahlawan mendapat tanda khusus. Contoh: Bawang Putih dikenali melalui cincin yang muat di jarinya.
18. Victory (kemenangan): Penjahat dikalahkan. Contoh: Raksasa mati akibat benda ajaib Timun Mas.
19. Liquidation (penyelesaian kekurangan): Masalah utama teratasi. Contoh: Ancaman raksasa pun hilang.
20. Return (kepulangan): Pahlawan kembali. Contoh: Timun Mas pulang dengan selamat ke rumah ibunya.
Baca Juga: Mengulas Sisi Feminis dalam Karya Sastra Indonesia
21. Pursuit (pengejaran): Penjahat mengejar pahlawan. Contoh: Raksasa terus mengejar Timun Mas.
22. Rescue (penyelamatan): Pahlawan selamat dari pengejaran. Contoh: Timun Mas lolos berkat garam yang berubah jadi lautan.
23. Unrecognized arrival (kedatangan tak dikenali): Pahlawan kembali tanpa dikenali. Contoh: Malin Kundang pulang sebagai orang kaya, tidak dikenali ibunya.
24. Unfounded claims (klaim palsu): Penjahat berpura-pura sebagai pahlawan. Contoh: Bawang Merah mengaku sebagai anak baik, padahal sebaliknya.
25. Difficult task (tugas sulit): Pahlawan diberi tantangan berat. Contoh: Sangkuriang harus membuat perahu dan bendungan dalam semalam.
Baca Juga: Meluruskan Persepsi: Jurusan Sastra Indonesia tak Hanya Soal Hobi
26. Solution (penyelesaian tugas): Tugas berhasil diselesaikan. Contoh: Dewi Nawang Wulan mampu memasak nasi dari sebutir padi.
27. Recognition (pengakuan): Pahlawan dikenali jati dirinya. Contoh: Bawang Putih diakui sebagai gadis berhati mulia.
28. Exposure (pengungkapan): Penjahat terbongkar. Contoh: Kebusukan Bawang Merah terungkap di hadapan orang tua.
29. Transfiguration (perubahan bentuk): Pahlawan berubah atau naik derajat. Contoh: Bawang Putih hidup bahagia setelah penderitaannya berakhir.
30. Punishment (hukuman): Penjahat menerima hukuman. Contoh: Malin Kundang dikutuk menjadi batu.
Baca Juga: Cerpen di TikTok: Sastra Secepat Geseran Layar
31. Wedding (pernikahan): Pahlawan menikah atau mendapat hadiah. Contoh: Banyak dongeng Nusantara ditutup dengan perkawinan tokoh utama.
Dengan fungsi Propp, kita bisa melihat bahwa dongeng memiliki struktur yang konsisten. Metode ini memudahkan peneliti membandingkan berbagai cerita rakyat dari budaya berbeda, bahkan merancang pola cerita baru.
Seperti ditegaskan Propp dalam Morphology of the Folktale (1968), fungsi ini adalah “mesin naratif” yang menjelaskan mengapa dongeng dari Rusia hingga Indonesia memiliki pola yang serupa.
Baca Juga: Sastra Perlawanan: Dari Chairil Anwar hingga Eka Kurniawan, Suara yang Tak Pernah Padam
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi