Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Yadnya Kasada: Menyelami Makna Ritual Pengorbanan Suku Tengger di Kawah Bromo

Internship Radar Kediri • Kamis, 30 Oktober 2025 | 23:56 WIB
Tradisi Yadnya Kasada, wujud persembahan suku Tengger di lereng Gunung Bromo
Tradisi Yadnya Kasada, wujud persembahan suku Tengger di lereng Gunung Bromo

JP RADAR NGANJUK Di antara kabut dan dinginnya Gunung Bromo, terselip sebuah ritual sakral yang telah berlangsung turun-temurun: Yadnya Kasada. Upacara adat tahunan masyarakat Suku Tengger ini bukan sekadar atraksi budaya, melainkan ekspresi syukur dan penghormatan mendalam kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) serta alam yang telah memberikan kehidupan.

Ritual ini berakar dari legenda Rara Anteng dan Joko Seger, pasangan suami-istri yang memohon keturunan dengan syarat mengorbankan anak bungsunya, Raden Kusuma, ke kawah Bromo. Kisah cinta dan pengorbanan ini menjadi landasan filosofis Yadnya Kasada, di mana setiap persembahan melambangkan ketulusan dan rasa terima kasih kepada para leluhur.

 

Prosesi Yadnya Kasada berlangsung selama beberapa hari dengan rangkaian yang penuh makna. Dimulai dengan pengambilan air suci (mendhak tirta) dari sumber mata air tertentu, dilanjutkan dengan penyucian semua sarana upacara di Pura Luhur Poten. Puncak acara terjadi pada dini hari tanggal 14 bulan Kasada, ketika para umat dan dukun adat berjalan menuju kawah Bromo untuk melemparkan sesaji berupa hasil bumi, ternak, dan kerajinan tangan.

Makna ritual ini sangat dalam. Setiap sesaji yang diterbangkan ke kawah Bromo melambangkan pengorbanan dan harapan akan keselamatan, kesejahteraan, serta perlindungan dari marabahaya. Bagi masyarakat Tengger, Bromo bukan sekadar gunung, melainkan sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya.

 

Di tengah derasnya modernisasi, masyarakat Tengger tetap teguh mempertahankan tradisi leluhur ini. Yadnya Kasada menjadi penanda identitas spiritual yang memperkuat solidaritas komunitas, sekaligus bukti ketahanan budaya lokal dalam menghadapi perubahan zaman.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung, persiapan fisik dan mental sangat diperlukan. Suhu dingin ekstrem dan medan menuju kawah yang menantang harus dihadapi. Yang terpenting, pengunjung harus menjaga sikap hormat selama upacara, tidak mengganggu prosesi, dan mengikuti panduan dari masyarakat setempat. Waktu terbaik menyaksikan adalah dini hari saat prosesi melempar sesaji berlangsung.

 

Yadnya Kasada adalah warisan hidup yang mengajarkan kita tentang harmoni antara manusia, alam, dan sang pencipta. Ritual ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi tentang bagaimana tradisi kuno dapat tetap relevan dalam kehidupan modern sambil menjaga kearifan lokal yang tak ternilai harganya.

 

 

Dita Amelia Ningsih 

Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

 

 

Editor : Karen Wibi
#budaya nusantara #suku tengger #yadnya kasada #bromo #adat budaya