NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Warung kopi (warkop) banyak sekali di Kota Angin. Namun hanya segelintir warkop yang menurut masyarakat patut menyandang predikat warkop legendaris. Salah satunya adalah Warkop Mbah Wir.
Warkop Mbah Wir sudah buka sejak 1964. Mengutamakan rasa yang khas dan berbeda dari yang lain, Warkop Mbah Wir menjadi warung kopi jujugan bagi anak muda hingga orang dewasa. Bahkan pelanggannya dari luar kota.
Bagi pecinta kopi, Warkop Mbah Wir sudah tidak asing lagi. Lokasinya berada di pinggir jalan di Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk. Buka mulai pukul 06.00 pagi hingga 21.00 malam. Warungnya tidak pernah sepi, parkiran selalu penuh dengan kendaraan para pelanggan. Bahkan tak sedikit pula kendaraan roda empat plat luar Nganjuk yang berkunjung untuk mengincipi kopi khas Warkop Mbah Wir.
“Warung ini sudah sejak 1964, saat itu saya dengan suami yang memulai membuka warung ini,” ujar Jaminem, pemilik Warkop Mbah Wir.
Rupanya, nama Mbah Wir diambil dari nama suami Jaminem, yakni Wiryodikromo. Hanya saja, suaminya sudah meninggal dunia pada tahun 1990-an. Sehingga, Jaminem harus meneruskan warkopnya tanpa didampingi suaminya lagi. “Saya lupa pastinya tahun berapa, yang jelas tahun 1990-an kemudian saya dibantu oleh anak dan cucu saya di warung,”ujarnya.
Meskipun usianya sudah senja, Jaminem masih semangat meracik kopi untuk pelanggannya. Sekilas kopi buatannya memang seperti kopi bubuk pada umumnya. Namun yang menjadi beda adalah kopi yang dia seduh itu adalah kopi mentah yang dia goreng sendiri sebelum dihaluskan.
Setelah dihaluskan, sebelum kopi diseduh dicampur dengan gula. Kemudian diaduk-aduk di tempat wadah. “Tidak ditakar gula dan kopinya, pakai kira-kira saja (insting, red),” tutur nenek usia 92 tahun itu.
Setelah diaduk, kemudian Jaminem menuangkan air rebusan yang direbus menggunakan arang di tumpu yang terbuat dari tanah liat. Inilah rahasia kenapa kopinya disukai para pelanggannya. Salah satu pembeli yang saat itu nongkrong, Rozikin, 34, warga Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk ini mengaku rasa kopi di Warkop Mbah Wir ini sangat khas. Apalagi air yang direbus menggunakan arang. “Seperti ada sedap-sedapnya, beda menggunakan kayu, kalau kayu mungkin sedikit sangit, tapi kalau rebusnya pakai arang seperti ada sedapnya sedikit, coba saja kalau tidak percaya,” ujar Rozikin.