NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Delman atau dokar sudah tak mentereng seperti puluhan tahun lalu. Bahkan di Kabupaten Nganjuk jumlahnya kini bisa dihitung dengan jari. Yaitu, hanya lima. Kelima delman tersebut kini hanya beroperasi di sekitar Pasar Berbek.
Jika ditarik puluhan tahun belakang, delman atau dokar menjadi salah satu transportasi yang paling terkenal. Namun berbanding terbalik dengan saat ini. Karena memang sudah tak banyak moda transportasi yang ‘mesinnya’ menggunakan kuda.
Begitu juga dengan di Kabupaten Nganjuk. Bahkan saat ini jumlah dokar dapat dihitung dengan jari. Hanya lima dokar saja. Kelimanya kini sering mangkal di Pasar Berbek.
Umumnya kelima dokar itu akan mangkal sekitar pukul 07.00 WIB. Hingga siang hari mereka akan tetap mangkal di depan pintu masuk Pasar Berbek. Lalu, pada sore harinya mereka akan kembali pulang ke rumah masing-masing.
“Dulu di Nganjuk ya ratusan. Kalau sekarang hanya ada lima,” terang Sudarminto, 85, seorang kusir dokar di Pasar Berbek kepada wartawan koran ini.
Pria yang sudah menjadi kusir sejak tahun 1959 itu mengatakan, jika jumlah dokar di Nganjuk terus berkurang. Dia pun mengingat, dia tahun 1959 lalu, dokar menjadi moda transportasi umum yang sangat terkenal. Jumlahnya mencapai ratusan. Menyebar di seluruh kecamatan di Nganjuk.
Namun kini dokar mulai ditinggalkan. Jumlahnya pun berkurang sangat banyak. Terutama pada 10 tahun terakhir. Bahkan kini jumlahnya hanya lima. Kelimanya hanya di Kecamatan Berbek.
“Tinggal kami berlima. Dua di antaranya masih baru. Sedangkan tiga sisanya orang lama semua,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Mbah Min itu memiliki alasan mengapa tak ingin meninggalkan dokar. Salah satunya adalah rasa cintanya yang sudah mendalam. Maklum saja, Mbah Min sudah menggeluti pekerjaan ini selama 65 tahun.
Selain itu, Mbah Min juga tak ingin dokar sampai punah. Baginya dokar bukan hanya sebuah moda transportasi, namun juga warisan budaya yang wajib untuk dilestarikan.
“Eman kalau sampai ditinggal. Kalau bisa dokar ini wajib untuk dilestarikan,” tandasnya.
Sementara itu, Sugito, salah satu kusir dokar di Pasar Berbek mengaku baru menjadi kusir sejak lima tahun lalu. Dulunya Sugito pun tak pernah berpikir jika harus menjadi kusir dokar.
Namun takdir seolah-olah ingin Sugito menjadi kusir. Lima tahun lalu, ayah dari Sugito pensiun dari menjadi kusir dokar. Seluruh peralatan kusir pun diserahkan kepada Sugito. Mulai dari kuda hingga dokar. Pesan sang ayah adalah Sugito harus meneruskan pekerjaan sang ayah.
“Dulu diminta bapak untuk meneruskan. Mau tidak mau ya harus diterima,” terang pria yang kini berusia 49 tahun itu.
Namun bukan hanya hal itu yang membuat Sugito ingin menjadi seorang kusir. Karena dalam hati kecilnya, Sugito tak sampai hati jika dokar sampai punah di kemudian hari.
“Saya dari kecil sudah akrab sama dunia dokar, jadi ada eman kalau dokar sampai punah,” tandasnya.