NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Nganjuk mulai mereda. Hal ini membuat Pasar Hewan Kedondong akan dibuka normal.
Meski demikian, pemeriksaan pada hewan ternak terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk.
Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Nganjuk Siti Farida mengatakan, mulai pekan ini, pasar dibuka secara normal.
“Saat ini pasar sudah dibuka secara normal,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Seperti diketahui, Pasar Hewan Kedondong sempat dibuka secara terbatas. Pintu bagian timur ditutup.
Para pedagang hanya boleh menggunakan pintu barat. Alasannya agar petugas dapat melakukan pemeriksaan.
Nantinya, di pintu barat, ada petugas yang berjaga. Mereka mengecek kondisi sapi.
Jika terlihat sakit, sapi dilarang masuk pasar. Hewan tersebut dianjurkan untuk dipulangkan ke tempat asal.
Kini kedua pintu dibuka. Para penjual sapi dapat berjualan bebas kembali.
Meski demikian, pemeriksaan sapi terus dilakukan oleh petugas. Jika terbukti sakit, sapi tetap dilarang masuk ke pasar.
“Untuk pemeriksaan tetap terus kami lakukan,” tambahnya.
Farida mengatakan, PMK belum benar-benar hilang di Kabupaten Nganjuk.
Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada penjual dan pembeli untuk terus berhati-hati. Karena bukan tidak mungkin PMK dapat kembali menyebar.
“Pedagang sapi dan pembeli harus benar-benar menjual dan membeli sapi yang sehat. Jangan tergiur sapi dengan harga murah,” tandasnya.
Farida mengatakan proses pemulihan PMK di Kabupaten Nganjuk terus dilakukan.
Salah satunya dengan pemberian vaksin pada sapi. Vaksin yang didapat dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim itu terus dibagikan kepada peternak.
Terpisah Sanuri, 54, salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Kedondong sedikit lega pasar dapat dibuka secara normal.
Dengan kondisi seperti itu, jumlah pedagang dan pembeli sapi di pasar terus bertambah.
“Kemarin waktu ditutup sebelah timur jadi sepi,” ujarnya.
Dia berharap para penjual dan pembeli sapi dapat berhati-hati. Salah satunya dengan tidak menjual dan membeli sapi yang terlihat sakit.
Karena ditakutkan hal tersebut dapat kembali meningkatkan jumlah penyebaran PMK di Nganjuk. “Jangan sampai PMK menyebar karena merugikan peternak dan pedagang,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira