NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Sekitar 100 jemaah haji asal Kabupaten Nganjuk memutuskan ikut program murur. Murur itu adalah program untuk Jemaah risiko tinggi yang tanpa turun bus saat di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah.
Ketua TPIH Kloter 7, Muksin menjelaskan, program murur dilakukan untuk yang lansia, disabilitas, keterbatasan dan secara sukarela yang menghendaki murur. "Jemaah haji bisa mendaftar melalui kloter. Kami juga sedang mematangkan data itu dari kloter bayangan," ujarnya.
Muksin menjelaskan, jika tahun sebelumnya murur minimal 25 persen dari total jemaah, tahun ini berbeda. Yakni minimal 35 persen dari total jemaah.
"Maksimalnya tidak ada batasan. Siapapun boleh mengikuti program murur asal sudah terdaftar," papar Muksin.
Menurut Muksin, jemaah yang ikut murur ada tiga katagori. Katagori pertama yakni jemaah yang memang sangat lemah, tidak bisa melakukan aktivitas secara mandiri. Sehingga, ada dua yang diajukan untuk safari wukuf.
Kategori yang kedua yakni memiliki penyakit bawaan, darah tinggi, diabetes, jantung dan sebagainya. Katagori terakhir yakni jemaah yang sehat dan normal. "Sementara ini yang kami dapatkan informasi ada kurang lebih 100 jemaah dari 376 jemaah yang melakukan murur," jelasnya.
Jemaah yang mengikuti program murur tentunya akan melakukan pendataan terlebih dahulu. Sebab, hal itu terkait dengan mobilitas jemaah yang tidak ikut program murur akan turun di muzdalifah.
"Mekanismenya diangkut yang lebih dulu yang tidak murur, karena lebih dekat. Setelah itu yang bagian akhir langsung ke Mina," ungkapnya. (nov/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira