JP Radar Nganjuk- Kabupaten Nganjuk, yang terkenal dengan julukan Kota Angin, terus mengalami pertumbuhan penduduk yang stabil. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk, jumlah penduduk pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai 1,17 juta jiwa. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,15 juta jiwa.
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk dalam lima tahun terakhir berada pada angka 1,72 persen per tahun. Ini menunjukkan dinamika demografis yang cukup aktif di wilayah yang terbagi dalam 20 kecamatan tersebut.
Pusat Kota Padat, Daerah Pinggiran Lebih Renggang
Secara spasial, penduduk Nganjuk tersebar di 20 kecamatan, dengan tingkat kepadatan rata-rata mencapai 950 jiwa per kilometer persegi. Kecamatan Nganjuk sendiri menjadi daerah terpadat karena merupakan pusat pemerintahan, ekonomi, dan perdagangan.
Di sisi lain, wilayah seperti Kecamatan Sawahan dan Lengkong memiliki tingkat kepadatan lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis, di mana kedua wilayah tersebut memiliki topografi pegunungan yang mempengaruhi penyebaran dan pemukiman penduduk.
Penduduk Usia Produktif Dominasi Struktur Demografi
Salah satu catatan penting dari struktur penduduk Nganjuk adalah dominasi kelompok usia produktif (15–59 tahun). Berdasarkan data tahun 2024, kelompok ini menyumbang 64,28 persen dari total penduduk, atau sekitar 738 ribu jiwa.
Proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan tren peningkatan jumlah usia produktif. Hal ini seiring bertambahnya lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang masuk ke pasar kerja. Kondisi ini memberikan potensi ekonomi yang besar bagi kabupaten, terutama dalam pengembangan industri kreatif, UMKM, dan sektor pertanian modern.
Sementara itu, penduduk usia anak-anak (0–14 tahun) mencakup 18,93 persen, dan usia lanjut (60 tahun ke atas) sebesar 16,79 persen. Dengan tren populasi menua yang mulai terlihat, perhatian terhadap layanan kesehatan dan sosial bagi lansia menjadi isu strategis di masa mendatang.
Rasio Gender: Seimbang dan Terkendali
Dari sisi jenis kelamin, rasio antara laki-laki dan perempuan di Nganjuk cukup seimbang, yaitu 100:98. Artinya, untuk setiap 100 laki-laki terdapat 98 perempuan. Rasio ini mencerminkan distribusi gender yang stabil dan tidak menunjukkan adanya ketimpangan mencolok.
Namun, di beberapa wilayah pedesaan, jumlah laki-laki sedikit lebih dominan. Hal ini dikarenakan adanya migrasi perempuan muda ke kota besar seperti Surabaya atau Jakarta untuk bekerja di sektor formal maupun informal. Fenomena ini turut memengaruhi dinamika keluarga dan struktur sosial di desa-desa tertentu.