Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Petani Menanam Padi saat Kemarau. Mengapa Bukan Jagung?

Karen Wibi • Selasa, 29 Juli 2025 | 00:42 WIB

SIAP TANAM: Petani di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro membakar lahan setelah panen padi. Mereka akan menanam padi di musim kemarau karena harga gabah saat ini melambung.
SIAP TANAM: Petani di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro membakar lahan setelah panen padi. Mereka akan menanam padi di musim kemarau karena harga gabah saat ini melambung.

Kepincut karena Harga Gabah Melambung

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Petani di Nganjuk ogah menanam jagung di musim kemarau. Mereka lebih memilih menanam padi. Padahal, saat musim kemarau, petani akan kesulitan mendapatkan air. Sehingga, tanaman padi rawan mati. “Kami nekat mau nanam padi saat kemarau karena harga gabah sedang bagus,” ujar Sutoyo, 56, petani asal Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro.

Meski baru saja panen padi dan seharusnya menanam jagung tetapi Sutoyo dan tetangganya sepakat kembali menanam padi.

Harga gabah yang bagus menyebabkan petani ingin kembali menaman padi. Karena di panen terakhir lalu, harga gabah di tengkulak mencapai Rp 7.500 per kilogram (Kg). Jauh dibanding dengan harga dari Bulog yang hanya Rp 6.500 per Kg.

Baca Juga: Nabung atau Investasi di 2025: Mana yang Lebih Aman dan Menguntungkan?

Namun tentu ada risiko ketika petani ingin menanam padi saat kemarau. Salah satunya masalah ketersediaan air. Namun Sutoyo percaya, musim kemarau di Nganjuk tidak akan bertahan lama. Karena diprediksi, September nanti, hujan akan mengguyur Kota Angin. “Semoga saja tidak ada kekeringan di sini,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Pertanian Agus Yuni Purwanto mengatakan, penanaman padi di musim kemarau sangat berisiko. Terlebih jika melihat kondisi lingkungan sekitar yang sering kekurangan air. Oleh karena itu dirinya mengimbau kepada petani untuk berhati-hati. “Jika kemarau, maka lebih baik menanam jagung dan tanaman yang tidak butuh banyak air,” ujarnya. 

Agus mengatakan, disperta tidak bisa memaksa petani menanam jagung. Karena hal itu adalah hak dari petani. Namun demikian, pihaknya hanya mengingatkan. Karena risiko tanaman padi mati dan gagal panen saat musim kemarau sangat besar. 

Selain itu, pengeluaran petani juga akan lebih besar jika memaksa menanam padi. Mereka wajib menggunakan pompa air untuk memenuhi kebutuhan air  tanaman padi. Ini berbeda jika musim hujan. Karena intensitas hujan akan tinggi saat musim hujan.  (wib/tyo)

Editor : Jauhar Yohanis
#tanam jagung #padi #kemarau