Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Umbul-Umbul Sepi Pembeli

Novanda Nirwana • Minggu, 10 Agustus 2025 | 02:33 WIB

SEPI PEMINAT: Umbul-umbul dan bendera dijual di tepi jalan.
SEPI PEMINAT: Umbul-umbul dan bendera dijual di tepi jalan.

BULAN Agustus menjadi bulan yang paling dinantikan bagi penjual bendera merah putih. Karena di bulan ini seharusnya mereka akan kebanjiran rejeki. Namun ternyata momen tersebut tidak lagi terjadi di tahun ini. Banyak masyarakat yang lebih memilih membeli bendera secara online. “Biasanya ramenya itu sampai tanggal 10, tetapi tahun ini penjualannya menurun,” ujar salah satu penjual bendera bernama Jajang.

Setiap pagi, Jajang selalu merapikan bendera yang dia jual. Tiang bambu dan pipa besi dipancang di tepi jalan untuk memajang bendera aneka ukuran. Ada bendera standar untuk rumah, umbul-umbul memanjang, hingga background merah putih untuk panggung perayaan.

Baca Juga: Info Cuaca Nganjuk Hari Ini: Semua Kecamatan Berawan, Suhu Tertinggi Capai 33°C

Jajang mengaku sudah 25 tahun berjualan bendera setiap Agustus. Dia biasanya memilih lokasi strategis di tepi jalan raya yang ramai. Dagangan dibawa dari Bandung, titipan dari pengepul. Harga bervariasi, mulai Rp15 ribu untuk bendera kecil hingga Rp200 ribu untuk umbul-umbul besar.

Bagi sebagian pedagang, momen ini adalah ladang rezeki setahun sekali. Mereka rela menempuh jarak yang jauh dari rumah. Tak jarang, ada yang berjualan sejak akhir Juli untuk mengejar pembeli yang ingin lebih awal menghias rumah atau kantor. “Sekarang kalahnya online, tapi saya tetep jualan offline aja,” tambahnya.

Pemandangan deretan bendera berkibar di pinggir jalan ini tak hanya menandai datangnya bulan kemerdekaan, namun juga menjadi warna tersendiri di Kota Angin. 

Baca Juga: Apa Itu Nomophobia? Ketika Jauh dari HP Bikin Gelisah, Ini Tanda & Cara Mengatasinya

Tak hanya Jajang yang mengeluh turunnya omset penjualan tahun ini, penjual bendera lain juga sama. Yakni Cepi Andrian. Dia juga mengeluhkan barang dagangannya tak laku. Jika bendera yang dia bawa masih tersisa, dia harus memulangkan stoknya ke rumah halaman melalui paket. Untuk dijual kembali tahun depan. “Kalau ngga laku ya disimpen buat tahun depan,” tambah Cepi. 

Aktivitas jual bendera ini bukanlah pekerjaan utama bagi Cepi. Di Bandung, ia sebenarnya berjualan bakso. Namun, momen Agustusan selalu ia manfaatkan untuk mencari tambahan rezeki dengan menjual atribut kenerdekaan. “Tiap Agustus aja jual benderanya,” pungkasnya. (nov/wib)

Editor : Miko
#agustus #umbul umbul #nganjuk #bendera #sepi pembeli #hut ri