Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Agustusan, Tiga Monumen Penanda Sejarah di Nganjuk Ini Bisa Anda Kunjungi

Syahrul Andry Wahyudi • Senin, 18 Agustus 2025 | 14:10 WIB
Agustusan, Tiga Monumen Penanda Sejarah NKRI di Nganjuk Ini Bisa Anda Kunjungi
Agustusan, Tiga Monumen Penanda Sejarah NKRI di Nganjuk Ini Bisa Anda Kunjungi

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Nganjuk dikenal sebagai daerah yang memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. Tercatat sederet kejadian penting pada masa lampau turut mewarnai sejarah tanah air khususnya di Kota Angin.

Saat ini setidaknya ada tiga monumen bersejarah yang berdiri kokoh di Nganjuk. Ketiganya memiliki peran penting atas sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada masa perjuangan silam.

Ketiganya hingga saat ini terawat dengan baik. Bahkan kerap dikunjungi warga atau wisatawan yang ingin mengenang jasa pahlawan pendahulu. Berikut daftar ketiga tugu yang juga monumen bersejarah tersebut.

1. Monumen dr. Soetomo

Bisa jadi, Monumen dr. Soetomo adalah penanda sejarah masa silam yang berdiri sangat megah di Nganjuk. Fasilitas penunjang pada area monumen yang berlokasi di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret ini terbilang komplit.

Mulai pendopo, mini museum, hingga area parkir dan halaman yang luas. Termasuk patung dr. Soetomo yang sedang duduk dan menatap tajam ke arah selatan.

Siapa saja tentu ingin berlama-lama di lokasi yang konon menjadi tempat lahir dr. Soetomo ini. Saat ini, pemerintah setempat menjadikan Monumen dr. Soetomo sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Angin.

2. Monumen Jenderal Sudirman

Bagi Anda yang mengunjungi wisata Air Merambat Roro Kuning, tentu akan melewati monumen Jenderal Sudirman ini. Lokasinya berada di persimpangan Desa Bajulan, Kecamatan Loceret.

Selain monumen, tidak jauh dari monumen ini juga terdapat petilasan panglima angkatan bersenjata pertama Indonesia itu. Kondisi petilasannya juga sangat terawat dengan baik.

Konon, saat masa perang silam, Jenderal Sudirman dan pasukannya bergeriliya hingga melewati wilayah Desa Bajulan. Beberapa kali Sudirman menyempatkan diri beristirahat, dan menurut cerita lokasi berhentinya tepat pada petilasan tersebut.

Selain istirahat, Jenderal Sudirman juga menyempatkan ibadah salat dan berdiskusi mengatur strategi perang. Kedua aktivitas itu dia lakukan pada bebatuan di sekitar petilasan. Hingga saat ini, kondisi bebatuan tersebut juga tetap terjaga asri.

 

 

3. Monumen Perjuangan Polri Ngadiboyo

Menurut sejarah, pada 14 April 1949 terjadi upaya penguasaan Nganjuk oleh Belanda. Peristiwa Agresi Militer Belanda II itu diwarnai kontak senjata yang melibatkan pasukan Belanda dan polisi yang kebetulan bersembunyi di daerah Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso.

Saling tembak terjadi antara kedua pasukan saat malam itu. Sekuat tenaga dan gagah berani polisi tanah air melakukan perlawanan. Dengan berbagai keterbatasan, akhirnya 12 polisi gugur. Tiga orang lainnya luka berat, dan dua di antaranya berhasil meloloskan diri.

Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah kemudian mendirikan monumen untuk mengenang peristiwa tersebut. Masyarakat kini menyebutnya dengan Monumen Perjuangan Polri Ngadiboyo.

Demikian ketiga monumen yang memiliki jejak sejarah penting bagi NKRI. Ketiganya bisa menjadi referensi Anda untuk mengenang jasa pahlawan pada momen peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia seperti saat ini.

Editor : Miko
#monumen polri #Jenderal Sudirman #berita nganjuk #dr soetomo #nkri #Agresi Militer Belanda #nganjuk #radar nganjuk #agustusan #hut ri #sejarah