NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pembangunan plengsengan Kawasan Wisata Roro Kuning menelan dana di atas Rp 100 juta. Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Nganjuk menggelontorkan dana Rp 157,5 juta. Menurut Kepala Disporabudpar Gunawan Widagdo melalui Kabid PDTD Hermawan CN, dana Rp 157,5 juta digunakan untuk memperbaiki tebing yang berada di Wisata Roro Kuning. Karena plengsengan untuk tanggul tersebut mengalami kerusakan akibat bencana alam banjir yang terjadi pada tahun 2020. Sebelum mengalami kerusakan, tebing tersebut berupa plengsengan untuk menahan tanah.
Karena kerusakan tersebut membuat tempat wisata tersebut sempat ditutup. “Pengerjaan ini sudah dilakukan sejak 30 Juni,” imbuhnya.
Plengsengan yang diperbaiki tersebut memiliki panjang sekitar tujuh meter, dengan tiga trap. Trap yang pertama panjangnya 1,8 meter. Kemudian, yang kedua panjangnya 3,4 meter, dan yang ketiga panjangnya 1,8 meter. Plengsengan yang rencananya selesai pada akhir bulan September ini memiliki lebar sekitar 15 meter.
Selain untuk memperbaiki tebing, dana tersebut juga digunakan untuk memperbaiki saluran air yang berada di sana. Sebab dampak banjir yang bercampurkan air, lumpur dan material ini tidak hanya membuat tebing rusak. Namun juga membuat merusak saluran air. “Banjir menyebabkan kerusakan saluran air,” ujar laki-laki yang pernah bertugas di Dinas Perhubungan Kabupaten Nganjuk.
Hermawan menambahkan bahwa pihak Disporabudpar saat ini sedang fokus ke pemulihan wisata dibandingkan menambah fasilitas. Sebab jika fasilitas bertambah namun kondisi wisata tidak terawat akan percuma.
Setelah selesai melakukan perbaikan pada kerusakan. Baru akan melakukan penambahan fasilitas. Namun dengan anggaran yang disesuaikan, perbaikan tempat wisata yang berlokasi di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret ini dilakukan secara bertahap.
Untuk diketahui, bahwa Wisata Roro Kuning ini tidak hanya wisata air merambat. Namun juga ada fasilitas kolam renang dewasa dan anak-anak. Sayangnya kolam renang tersebut akan terisi airnya ketika akhir pekan. Sebab saluran air yang digunakan untuk mengisi kolam harus bergantian dengan warga di sana. “Sebab di hari biasa sumber ini digunakan untuk pertanian. Kami hanya diberi jatah satu minggu sekali,” ungkap Hermawan. (ara/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis