Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Petani Jagung di Pace Pusing Tujuh Keliling

Habibah Anisa M. • Sabtu, 20 September 2025 | 12:45 WIB

BIAYA BESAR: Petani jagung di Pace harus menggunakan diesel untuk mengairi sawah kemarin. Tanaman jagung yang masih muda akan mati kekeringan jika tidak disiram.
BIAYA BESAR: Petani jagung di Pace harus menggunakan diesel untuk mengairi sawah kemarin. Tanaman jagung yang masih muda akan mati kekeringan jika tidak disiram.

NGANJUK, JP Radar ­Nganjuk– Petani di Kecamatan Pace mulai kebingungan. Musim kemarau membuat tanaman jagung mereka terancam mati. “Jika 10 hari tidak disiram, jagung ini akan mati,” ujar Paniran, 60, petani di Desa Pacewetan, Kecamatan Pace kemarin. 

Hujan yang tidak turun di bulan ini membuat sawah di Pace mengalami kekeringan. Tidak ada air di saluran air.

Akibatnya, petani harus menggunakan diesel untuk mengairi sawah. Hal itu tentu membuat pengeluaran petani bertambah besar. “Sekali diesel itu harus keluarkan uang ratusan ribu untuk beli solar,” ujar pria yang mengaku memiliki mesin diesel sendiri ini. 

Karena jagung yang ditanamnya masih berusia satu minggu, Paniran tidak memiliki pilihan lain.

Dia harus menggunakan diesel untuk mengairi sawahnya. “Sepuluh hari sekali harus saya diesel agar tidak mati,” ujarnya. 

Paniran mengatakan, meski tanaman jagung tidak membutuhkan banyak air seperti padi tetapi air tetap dibutuhkan. Karena jika sawah kering maka tanaman jagung akan mati. Karena itu, minimal 10 hari sekali, dia harus menggunakan diesel untuk pengairan. “Nanti kalau sudah besar, bisa 15 hari sekali dieselnya,” ujarnya. 

Saat ini, Paniran berharap, hujan segera turun. Sehingga, pengeluaran membeli solar untuk mesin diesel bisa ditekan. “Mudah-mudahan hujan segera  turun,” harapnya. 

Sementara itu, Fadlin Nuryani, Kabid Produksi dan Perizinan Dinas Pertanian Nganjuk mengatakan bahwa beberapa daerah di pertanian di Kabupaten Nganjuk harus mengandalkan mesin diesel untuk pengairan saat musim kemarau. Daerah yang menggunakan diesel ini karena jauh dari saluran air. Sehingga satu-satunya harus menggunakan sumur di sawah. “Diesel digunakan untuk menyedot air di sumur,” ujarnya.

Sebenarnya, petani Kota Angin sudah menyiasati kondisi kekeringan saat musim kemarau dengan menanam jagung. Karena itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk pada tahun 2024, tanam jagung ini merata di 20 kecamatan. Paling luas berada di Kecamatan Ngetos, dengan luas 2.408 hektare. (ara/tyo)

Editor : Miko
#pace #nganjuk #petani #jagung #musim kemarau