PERTUNJUKAN Party Kelir yang digelar enam anak muda Nganjuk di sebuah kafe di Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk pada Sabtu (20/9) malam lalu, berhasil memikat puluhan penonton.
Puluhan orang hadir memenuhi kafe. Beberapa di antaranya bahkan datang jauh-jauh dari Kediri dan Malang. Mereka mengetahui acara ini lewat unggahan poster di Instagram. “Posternya di-upload hanya di dua akun, tapi teman-teman ikut menyebarluaskan. Jadi makin banyak yang tahu,” ujar dalang sekaligus penggagas acara, Joko Adi Pranowo.
Bagi Joko dan lima rekannya Baiu Progress, Abimanyu, Laminan, Gus Dirgan, dan Arya Mamba, ini adalah pengalaman perdana menggelar pertunjukan wayang modern di kampung halaman. Tak heran jika sejak awal mereka tidak berharap banyak. Namun hasilnya justru di luar ekspektasi. “Pertama kali saya mengadakan acara ini. Di luar dugaan responsnya,” ungkap pemuda berusia 25 tahun itu.
Kerumitan proses kreatif yang mereka jalani selama berminggu-minggu seolah terbayar ketika layar kelir terbuka. Adegan demi adegan mendapat tepuk tangan penonton. Terutama saat musik pengiring masuk dengan kejutan.
Meski bercerita tentang perebutan tahta dalam Mahabarata, Joko mengemasnya dengan bahasa Indonesia penuh. Hanya adegan goro-goro yang tetap memakai bahasa Jawa untuk menjaga interaksi dengan penonton. Hasilnya, alur cerita terasa mudah diikuti, baik oleh kalangan muda maupun dewasa.
Petunjukan tidak berhenti begitu pertunjukan wayang selesai. Penonton justru bertahan untuk mengikuti sesi diskusi. Mereka terlibat aktif membahas konsep cerita, eksplorasi musik, hingga prospek lanjutan dari proyek seni ini. “Respon penonton katanya sangar. Mereka malah minta ada pentas berikutnya lagi,” kata Joko.
Bahkan, euforia itu merambah ke luar panggung. Setelah acara, salah satu teman Joko menerima sejumlah pesan WhatsApp dari penonton yang mengusulkan tur pentas keliling kota.
“Ada juga yang ngajak tour keliling kota. Ya kalau ada dananya, nggak masalah gas aja,” tawanya. (nov/wib)