NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Slumbung Food Festival (SFF) mangkrak kemarin. Hal itu membuat Pemkab Nganjuk berusaha mencari investor untuk mengelola SFF. Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan, dalam waktu dekat, SFF akan kembali beroperasi seperti dulu. “SFF tidak akan dikelola oleh Pemkab Nganjuk. Melainkan oleh pihak ketiga,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Marhaen menjelaskan, dulu SFF pernah dikelola oleh Pemkab Nganjuk. Namun hasilnya tidak maksimal. Banyak pedagang yang gulung tikar. Alhasil aset yang berada di Jalan Ahmad Yani tersebut harus ditutup hingga saat ini.
Pemkab Nganjuk lalu mencoba memutar otak. Aset tersebut akan disewakan ke pihak ketiga. Proses penawaran sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu.
Hasilnya positif. Ada investor yang siap berinvestasi pada aset yang telah lama mangkrak itu. Dalam waktu dekat Pemkab Nganjuk akan segera melakukan teken kontrak dengan investor yang masih dirahasiakan itu. “Sudah ada kesepakatan antara Pemkab Nganjuk dan investor. Saat ini kami masih meramu poin-poin di dalam kontrak,” imbuhnya.
Salah satu poin yang dibahas adalah tentang durasi kontrak. Menurut Marhaen, Pemkab Nganjuk tak ingin investor “main-main” dalam menentukan durasi kontrak. Salah satunya adalah dengan melakukan putus kerjasama di tengah-tengah masa kontrak.
“Jangan karena sepi terus mereka memutuskan untuk putus kontrak. Kami ingin investor yang benar-benar memiliki komitmen,” tandasnya.
Lalu kapan SFF akan kembali beroperasi? Menanggapi pertanyaan itu, Marhaen mengatakan dirinya masih belum bisa memutuskan. Namun menurutnya proses teken kontrak akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Dengan targetnya adalah di akhir tahun mendatang. “Semoga saja dalam waktu dekat SFF dapat kembali beroperasi. Karena Karena selain untuk hiburan masyarakat, SFF juga membantu untuk perputaran ekonomi masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Sementara itu, dari pantauan koran ini, kondisi SFF kian memprihatinkan. Sejak tidak beroperasi, lokasi tersebut lebih sering kosong. Sampah-sampah berserakan di nyaris setiap sudut SFF.
Kondisi tersebut kian parah di malam hari. Karena selepas pukul 18.00 WIB, kondisi SFF terlihat kontras dengan Jalan Ahmad Yani. Salah satunya karena tidak ada lampu yang dinyalakan di SFF.
Bahkan, di waktu tertentu, SFF sering digunakan tempat orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) dan gelandangan. Mereka biasa tidur di sepanjang SFF. Entah itu, SFF bagian barat atau timur. (wib/tyo)
Editor : Karen Wibi