Sepi Pembeli, Pedagang di Pasar Kertosono Pilih Kembali ke Trotoar
Karen Wibi• Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:12 WIB
TIDUR DI TROTOAR: Pedagang Pasar Baru Kertosono nekat kembali berjualan di tepi jalan sejak kemarin. Mereka ogah berjualan di dalam Pasar Baru Kertosono karena pembeli enggan masuk ke dalam pasar.
Bagikan Dagangan Gratis ke Warga karena Tak Laku
KERTOSONO, JP Radar Nganjuk- Pedagang di Pasar Kertosono tidak betah di dalam pasar. Kemarin, mereka kembali berjualan ke trotoar. Hal ini dilakukan karena kondisi di dalam pasar sepi pembeli.
Dari pantauan wartawan koran ini, sekitar pukul 02.00 WIB, awalnya pedagang berjualan dengan tertib di stan dalam pasar. Namun semuanya berubah menjelang pukul 07.00 WIB. Di waktu tersebut beberapa pedagang kembali berjualan di luar. Mereka kembali berjualan di trotoar.
Mereka berjualan dengan lapak yang sederhana. Hanya beralaskan kain yang luasnya sekitar 2 meterx2 meter. Lalu, barang-barang yang dijual dipamerkan di alas kain tersebut.
Pedagang yang berjualan itu tidak bertahan lama di trotoar. Karena sekitar pukul 12.00 WIB mereka akan tutup. Kembali berjualan keesokan paginya.
Salah satu pedagang yang nekat berjualan di luar bernama Solikah. Perempuan paruh baya berusia 50 tahun itu mengatakan tidak betah berjualan di dalam. Bukan karena kondisi pasar yang tidak nyaman. Melainkan karena sepinya pembeli di dalam. “Dari tengah malam sampai pagi, pasar anyep. Pembelinya dapat dihitung dengan jari,” ujarnya.
Hal itulah yang membuat sejumlah pedagang sempat membagikan dagangannya berupa sayuran ke warga secara gratis. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes dan keinginan pedagang kembali ke tepi jalan.
Karena saat pedagang berjualan di tepi jalan, kondisi sepi di dalam pasar berbalik 180 derajat. Dalam hitungan menit, dagangan milik Sholikah nyaris ludes terjual. Ada puluhan pembeli yang datang.
Menurut Solikah, kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh dirinya. Melainkan juga puluhan pedagang lain. Kondisi itu tak terlepas dari kebiasaan pembeli di Pasar Kertosono. Mayoritas pembeli memilih pedagang yang lokasinya mudah dijangkau. Salah satunya yang berlokasi di pinggir jalan atau di trotoar. “Masih banyak yang berjualan di luar. Jadinya yang di dalam pasti kalah,” tambahnya.
Oleh karena itu, menurut Solikah, dirinya ingin diperbolehkan berjualan di luar. Karena jika tidak, Solikah percaya jika dirinya bisa merugi di kemudian hari. “Pemerintah harus ada solusi agar pedagang yang di dalam tidak merugi,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih menjelaskan pihaknya masih melarang pedagang yang berjualan di luar. Mereka tetap dipaksa untuk mau berjualan di dalam pasar. “Peraturan tidak berubah, pedagang harus berjualan di dalam,” ujarnya.
Lalu bagaimana jika ada pedagang yang masih berjualan di luar? Menanggapi pertanyaan itu, perempuan yang akrab disapa Bu Han itu akan mengerahkan petugas untuk memberi imbauan kepada pedagang. Yaitu, agar mereka kembali berjualan di dalam. “Kami tetap mengedepankan imbauan yang humanis kepada seluruh pedagang,” imbuhnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, masalah penataan Pasar Kertosono masih jadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk. Sejak diresmikan, masih banyak pedagang yang nekat berjualan di luar. Bahkan Disperindag Nganjuk mencatat 268 pedagang yang ogah berjualan di dalam. (wib/tyo)